Surabaya (beritajatim.com) – Soetari, perempuan senja berusia 74 tahun, istri dari seorang perintis kemerdekaan RI, masih sehat menjalani kehidupan sehari-harinya dengan bahagia.
Soetari tinggal di sebuah rumah sederhana yang terletak di gang sempit Kelurahan Kapasari, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya. Ia ditemani seorang anak dan dua orang cucunya, semenjak suaminya meninggal dunia karena sakit akibat usia.
Suami Soetari adalah Rawan, seorang perintis kemerdekaan RI dan anggota TNI AL (pelaut) berpangkat Matros. Mas Rawan merupakan pelaku sejarah yang kala itu ikut berjuang melawan penjajahan Belanda dari atas kapal perang De Seven Provincien. Kejadian itu kemudian dikenang dengan Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi.
Ditemui di rumahnya, Soetari menceritakan masa-masa perjuangan almarhum suaminya saat melawan Belanda. Rawan bersama ratusan rekan seperjuangannya membelot menghadapi serangan Belanda di kapal perang De Seven Provincien (Kapal Tujuh Provinsi). Akibat pembelotan tersebut, kapal dihujani bom oleh perwira Belanda dari pesawat Dornier.
“Pada masa perang dulu, Pak Rawan itu kan ada di Kapal Tujuh terus kapal itu kan dibom pasukan tentara Belanda,” kata Soetari.
“Bapak termasuk orang yang selamat,” kata Soetari gemetar. Walaupun setelahnya ia bersama ratusan bumi putra yang selamat lainnya ditangkap perwira Belanda, lalu dipenjara di pengasingan Pulau Digoel.

Peristiwa pengeboman Kapal Tujuh itu diceritakan Soerati terjadi pada 10 Februari 1933 di perairan Selat Sunda, pemisah antara Pulau Jawa dan Sumatra.
Kisah itu masih membekas di ingatan seluruh anggota keluarganya. Saat itu kapal memang dibajak bumiputera untuk merencanakan pemberontakan, serta akan dibawa berlabuh dari Sabang, Aceh menuju Surabaya.
“Kalau tidak salah ada tiga atau empat orang kawan bapak yang meninggal akibat bom itu. Tapi yang selamat seperti bapak, itu dipenjarakan oleh Belanda,” katanya.
Diasingkan Belanda di penjara Pulau Digoel, Mas Rawan bertemu dengan beberapa tokoh penting pencetus kemerdekaan RI. Ia mendekam selama 2 tahun 8 bulan.
“Setelah dari penjara hampir tiga tahun itu, bapak akhirnya dibebaskan dan bertemu saya di Surabaya tahun 1976. Kami yang sama-sama orang asli Purworejo, Jawa Tengah akhirnya memutuskan menikah dan dikaruniai seorang anak,” jelas Soetari tersipu.
Mengenang sosok suaminya saat masih muda, Soetari bersemangat, dijelaskannya bahwa Mas Rawan adalah lelaki gagah, tingginya hampir 2 meter, berkulit kuning, dan memiliki wajah tampan.
“Orang lain dan teman-temannya bapak itu bahkan manggil bapak itu ‘Meneer’ atau sebutan yang mengidentikkan tuan Belanda yang disegani. Kalau ibu-ibu kampung di sini, panggil saya mama, aku dikira keturunan Chinese,” ucap Soetari.
“Mungkin ya, ini hanya sebatas mungkin saja. Mungkin orang-orang yang menyebut kami begitu, memandang saya sama bapak ini saking serasinya sebagai pasangan,” imbuh wanita 74 tahun itu sembari tertawa lirih sebagai tanda bercanda.

Kembali mengingat sosok perintis kemerdekaan RI yang menjadi favoritnya sampai sekarang ini, Soetari mengingat kata-kata berharga yang disampaikan suaminya kepadanya setelah proklamasi dikumandangkan. Mas Rawan menolak tawaran negara untuk kembali menjadi prajurit TNI AL di Surabaya, dengan alasan ingin menata hidup keluarganya dan membantu orang-orang di sekitarnya untuk bangkit kembali setelah masa penjajahan selesai.
“Yang saya ingat betul itu ketika Mas Rawan menolak tawaran negara untuk jadi prajurit TNI AL. Dia bilang diam-diam ke saya, entah itu merayu atau serius, dia ingin menata hidup kami se keluarga, menjadi pengusaha dan membantu banyak orang,” ujar Soetari.
Terbukti, suami Soetari waktu itu sukses merintis bisnis sebagai pengusaha toko bangunan dan berhasil mensukseskan banyak orang, bahkan mengangkat seorang anak yang kemudian sukses menjadi seorang kepala kejaksaan di Cilacap.
Joko Sasongko, anak kandung tunggal dari Soetari dan Mas Rawan saat ditemui juga memancarkan perasaan bangga atas jasa bapaknya kepada negara, maupun kepada kehidupan pribadinya.
Menurut Joko, bapaknya adalah sosok tegas dan nasionalis yang mengajarkannya untuk selalu disiplin dan memanfaatkan waktu dengan baik.
“Bapak kalau A ya harus A, kalau B ya harus B,” ucap Joko, yang kini menjadi telah jadi bapak dari dua anaknya.
Dan mengenang sikap nasionalis ayahnya yang paling ia ingat, yaitu saat ayahnya berada di rumah sakit menjelang wafat. Pada hari itu bertepatan dengan ulang tahun Joko yang ke-7, ayahnya berkata bahwa ia sedang sakit dan tidak bisa merayakan dengan meniup lilin.
“Wafatnya bapak itu bersamaan dengan ulang tahun saya ke-7. Bapak bilang “Joko hari ini tidak tiup lilin dulu ya, tiup lilin saat ulang tahun itu budayanya Belanda, kamu harus jadi orang baik”,” terang Joko mengorek ingatkan berharga puluhan tahun silam.
Keluarga Mas Rawan, perintis kemerdekaan RI, kini tinggal nyaman di sebuah rumah sederhana yang terus menyala hangat. Kehidupan mereka dipenuhi limpahan anugerah dari jasa-jasa Mas Rawan sebagai pejuang kemerdekaan. Rumah yang dihuni Soetari dan Joko, menjadi saksi bisu dari perjuangan sang ayah.
Dinding-dinding batu bata berpoles cat biru di rumah itu dihiasi oleh pigura foto yang membingkai kenangan perjuangan Mas Rawan. Ada foto Kapal Tujuh Provinsi yang mengepulkan asap setelah dijatuhi bom Belanda, serta foto Mas Rawan dengan gagah. Semua foto tersebut seakan menjadi pengingat akan beratnya perjuangan yang telah dilalui. Melalui peninggalan visual ini, Soetari dan Joko berpesan kepada generasi muda saat ini agar tetap berjuang menahankan kemerdekaan dan turut memajukan negara Indonesia. [ram/beq]






