Surabaya (beritajatim.com) – Hidup ini memang suka bercanda. Kadang, tantangannya bikin lutut lemas. Tapi ada juga sosok-sosok tangguh yang bukannya lemas, malah bangkit dan menantang balik.
Salah satunya Roihan Miftah Hilmiy, pemuda yang kisah hidupnya bisa dibilang dramatis.
Sejak duduk di bangku SMA, Roihan harus menjadi tulang punggung. Sang ayah berpulang, meninggalkan Roihan, ibunya, dan perjuangan yang panjang. Jangan bayangkan dia patah semangat. Roihan justru mengisinya dengan rutinitas yang bikin geleng-geleng kepala.
Pagi sampai siang, ia adalah siswa SMA biasa. Sorenya, Roihan berubah menjadi ‘asisten’ ibunya, Rida Andirana, yang berjualan bakso.
Malamnya, ia menyambung hidup dengan bekerja di kafe. Belum cukup, di sela-sela semua itu, ia masih sempat berlatih Mixed Martial Arts (MMA) hingga mewakili sekolah di tingkat provinsi.
Setelah lulus, perjuangannya makin berat. Di sela menunggu hasil seleksi masuk perguruan tinggi, Roihan banting tulang menjadi kuli angkut pasir dan batu. Sebuah pekerjaan yang menguras tenaga, tapi ia jalani tanpa keluh.
Semua demi satu tujuan. Menghidupi keluarga dan menabung biaya pendidikan.
Roihan, yang tak pernah meminta uang lebih, bahkan rela meminjam Rp5.000 jika benar-benar kekurangan, adalah potret nyata keteguhan hati. Kisahnya pun sampai ke telinga Lailatul Nurul Khasanah, guru Bimbingan Konseling SMAN 1 Mojosari.
“Anak seperti ini sayang kalau tidak kuliah hanya karena ekonomi,” kata Nurul, ditulis Rabu (13/8/2025).
Dari sanalah, sebuah gerakan spontan lahir. Guru-guru dan beberapa alumni patungan untuk membantu Roihan mendaftar kuliah. Upaya itu akhirnya berbuah manis, Roihan diterima di Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Kisah Roihan dan para guru yang patungan itu juga tak luput dari perhatian Rektor Unesa, Cak Hasan. Pihak kampus kemudian memberikan beasiswa penuh, membebaskan Roihan dari Sumbangan Pengembangan Institusi dan Uang Kuliah Tunggal selama delapan semester.
Roihan pun tak kuasa menahan haru. Ia merasa seperti bermimpi. “Saya janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini,” ucapnya.
Bagi Roihan, kuliah bukan sekadar soal mengejar gelar. Itu adalah jalan untuk membahagiakan sang ibu, pahlawan sejati dalam hidupnya.
Kisah Roihan adalah bukti nyata bahwa di tengah kerasnya hidup, selalu ada jalan bagi mereka yang tak pernah menyerah. Ia adalah cerminan ketangguhan, kerja keras, dan tekad baja.
Ceritanya juga menjadi pengingat bahwa di luar sana, masih banyak orang baik yang siap mengulurkan tangan. [ipl]






