Surabaya (beritajatim.com) – Kedua tangan rentanya memeluk bingkai foto itu erat-erat. Di dalamnya, seorang pria muda berseragam militer menatap tegas ke arah kamera. Wajahnya belum tergores usia.
Sore itu, di teras rumah sederhana di Jalan Petemon IV, Sawahan, Surabaya, Winarti duduk di kursi kayu. Kerudung merah yang ia kenakan kontras dengan kulit wajah yang telah terpahat waktu.
Matanya terpaku pada foto itu. Hening, namun seolah sedang terlibat perbincangan dengan sosok pria gagah dalam bingkai yang dipegangnya.
“Umurku pas 90 tahun,” ucapnya lirih.
Kalimat itu mengalun perlahan, diiringi getaran suara yang sulit disembunyikan. Tak lama, matanya basah. Sesekali, terdengar bunyi tarikan napas cukup panjang. menarik napas panjang. Terasa berat, seperti hendak menyelam kembali ke masa lalu. Dari sanalah, cerita yang ia simpan puluhan tahun mulai mengalir.
Angin sore menyusup dari gang depan rumah. Semua terasa tenang, namun di balik itu tersimpan kisah tentang perang, pengungsian, dan nilai hidup yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sosok pria dalam bingkai foto itu adalah Mardjoeki, suami Winarti. Lahir di Pacitan pada 1927, ia baru berusia 18 tahun ketika memutuskan bergabung menjadi tentara Jepang. Saat itu, pilihan hidup begitu sempit. Seragam militer kerap menjadi satu-satunya jalan untuk bertahan di tengah krisis dan kekacauan.
Di masa perang kemerdekaan, Mardjoeki turut berjibaku melawan pasukan Sekutu. Misinya satu, memastikan berdirinya Republik. Pun usai Indonesia merdeka, Mardjoeki masih kerap terlibat dalam sejumlah pertempuran mempertahankan eksistensi negeri ini.
Tahun 1950, Mardjoeki dan Winarti bertemu di Pacitan. Meski tembakan senapan sudah jarang terdengar, aroma mesiu dan sisa trauma pendudukan Jepang maupun perang melawan Belanda masih pekat di udara.
Luka itu menyelinap di setiap sudut desa, termasuk di hati mereka yang mencoba memulai hidup baru.
Winarti lahir pada 5 Mei 1935 di Ngemplak, Sirnoboyo, Pacitan. Masa kecilnya tak pernah lepas dari rasa takut. Rumah keluarganya tak pernah benar-benar aman.
Pernah, mereka harus mengungsi ke pegunungan, menyusuri jalan setapak licin, menembus rimbun hutan, sambil menahan lapar dan cemas.
Di usia 17 tahun, ia sudah membantu keluarga dengan berjualan telur ayam kepada orang Belanda. “Saya waktu itu sudah jualan telur. Ibu saya bahkan jalan kaki dari Wonogiri ke Pacitan, kadang naik cikar (pedati, gerobak besar yang ditarik sapi),” kenangnya. Ceritanya diiringi senyum tipis, seolah ingin menutupi getir masa lalu.

Setelah menikah, perasaan khawatir tak pernah hilang dari jiwa Winarti. Hanya berganti sebab. Jika dulu dia dibuat khawatir oleh keadaan keluarga di waktu perang, berganti dengan perasaan tak tenang setiap kali Mardjoeki mendapat penugasan. Pernah, ia harus mengurus anak-anak seorang diri ketika sang suami bertugas di Mojokerto, tanpa kepastian kapan akan pulang.
“Bapak itu sabar, telaten, tegas, tapi nggak pernah marah-marah. Sama anak-anaknya selalu bilang ‘sekolah itu penting, jangan berhenti sampai bisa jadi orang’,” ujarnya menirukan ucapan sang belahan jiwa yang begitu lekat dalam benaknya.
Pesan itu membuahkan hasil. Dari tujuh anak mereka, hampir semuanya menjadi pegawai negeri. Ada yang menjadi dosen di Yogyakarta, ada yang bekerja di pemerintahan. Cucu-cucu mereka pun mengenyam pendidikan tinggi.
Joko, salah satu putra Winarti, menyebut kedisiplinan ayahnya sebagai fondasi utama. “Karena Bapak tentara, Beliau sangat disiplin. Dengan didikan itu, semua anak-anaknya akhirnya bisa sukses,” ujarnya.
“Alhamdulillah, meski dulu susah, anak-anak sukses. Itu semua karena pesan bapak yang kami pegang,” sambung Winarti, kali ini dengan nada penuh kebanggaan.
Bagi Winarti, warisan terbesar dari Mardjoeki bukanlah pangkat sersan atau tanda jasa perintis kemerdekaan. Yang lebih berharga adalah nilai hidup. Disiplin, kesabaran, dan keteguhan hati. “Pintar-pintarlah, dengar kata orang tua, dan jangan lupakan perjuangan,” pesannya kepada generasi muda.
Sore itu, cahaya matahari merayap masuk melalui celah bangunan, jatuh tepat di wajahnya yang penuh garis waktu. Foto Mardjoeki tetap ia peluk, sebagai jembatan yang menyatukan masa lalu dengan hari ini.
Dari rumah sederhana di Petemon, kisah Winarti dan Mardjoeki mengajarkan bahwa kemerdekaan tak hanya diperjuangkan di medan tempur. Ia juga dijaga di ruang keluarga, melalui teladan, nilai hidup, dan kesabaran yang tak pernah habis. [ipl/beq]






