Bojonegoro (beritajatim.com) – Di tepian Bengawan Solo, Kecamatan Padangan menyimpan kisah panjang yang pernah menjadikannya pusat pemerintahan, perdagangan, dan pendidikan di masa lalu. Kini, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono ingin menghidupkan kembali kejayaan itu melalui rencana membangun Padangan menjadi kota kecamatan modern.
“Padangan punya letak strategis dan potensi perdagangan yang luar biasa. Kami ingin menjadikannya sentral ekonomi, pendidikan, dan kesehatan,” kata Setyo Wahono dalam unggahan di media sosial pribadinya yang diakses jurnalis beritajatim.com, Senin (11/8/2025).
Selain Padangan, ia juga berencana mengembangkan kota kecamatan modern di Kedungadem, Kanor, Sekar, dan Temayang sebagai pusat pertumbuhan baru. Khusus Kanor, posisinya diyakini bisa menarik arus warga Tuban ke Bojonegoro. Mimpi itu juga disampaikan ulang dalam peresmian Katarak Center di RSUD Padangan, pada Selasa (5/8/2025).
Mimpi Bupati Bojonegoro Setyo Wahono juga mendapat dukungan dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno. Pratikno menyinggung soal mimpi Bupati itu pada saat memberikan sambutan dalam peresmian Katarak Center di RSUD Padangan.
“Padangan ini punya ekosistem kesehatan yang kuat. Dokter spesialisnya terbanyak dibanding wilayah sekitarnya (Grobokan, Blora, Rembang, dan Pati),” ujarnya.
Pratikno juga mengingatkan, sejarah Padangan tidak bisa dilepaskan dari posisinya yang strategis di tepian Bengawan Solo. Pada era Kerajaan Jipang Panolan (sekitar abad 15) dan Rajekwesi (sekitar abad 18), Padangan pernah menjadi ibu kota pemerintahan. Era Jipang, Padangan menjadi Ibukota yang secara administratif sekarang berada di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Hingga, pada 1725, Susuhunan Pakubuwono II memindahkan pusat pemerintahan dari Padangan ke Rajekwesi (kini Bojonegoro kota). Memasuki era kolonial (1900–1999), Padangan berkembang sebagai kota dagang dengan industri tembakau, percetakan, dan deretan ruko di kawasan Pecinan yang tumbuh lebih awal dibanding pusat kota Bojonegoro.
Setelah tahun 2000, Padangan dikenal sebagai kota tua dengan potensi wisata sejarah. Situs seperti Padangan Heritage kini dimanfaatkan sebagai media pembelajaran berbasis sejarah digital. Bangunan tua masih banyak yang kokoh berdiri. Selain itu, Padangan juga menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.
Bagi warga setempat, Padangan bukan sekadar kecamatan. Ia adalah simpul sejarah yang menyatukan ingatan masa lalu dengan mimpi masa depan. Dari Dusun Tegiri Desa Tebon, terdapat bukit bernama Gunung Jali. Seperti dalam sebuah tulisan di website jurnaba.co, tempat ini menyimpan sejarah religi yang penting karena diyakini sebagai dakwah Syekh Jumadil Kubro pada abad ke 14.
Kawasan di sebelah barat Bojonegoro itu menyimpan cerita panjang — kisah yang melampaui batas administratif dan kalender modern. Bagi sebagian orang, Padangan hanyalah titik kecil di peta. Tetapi bagi mereka yang lahir dan besar di sini, tanah ini adalah simpul sejarah. Orang tua masih menyebutnya Jipang Padangan, nama yang membawa masa ketika tempat tersebut menjadi pusat pemerintahan Kawedanan.
Saat itu, Padangan bukan sekadar desa-desa berjejer, melainkan titik kendali politik yang strategis di jalur hulu-hilir Bengawan Solo. Di antara lorong-lorong waktu itu, Padangan juga dikenal sebagai kota cahaya. Julukan ini bukan tanpa alasan. Sejak berabad lalu, wilayah ini menjadi magnet bagi para pencari ilmu. Di pesantren-pesantren tua, para kiai mengajarkan tafsir, fiqih, dan tasawuf.
Kisah tentang Mbah Hasyim dan Mbah Sabil masih kerap diceritakan di serambi masjid, mengingatkan bahwa Padangan adalah persinggahan para salik — mereka yang mengarungi perjalanan spiritual demi menggapai ridha-Nya. Sejarah Padangan, juga banyak ditulis oleh Wahyu Rizkiawan dalam sebuah website jurnaba.co yang merupakan media alternatif di Bojonegoro.
Perjalanan waktu membawa Padangan ke era kolonial. Jembatan megah di atas Bengawan dibangun, menghubungkan Padangan dengan Cepu dan membuka arus perdagangan baru. Bahkan, sebuah lapangan terbang pernah berdiri di sini pada 1930-an. Pesawat-pesawat Hindia Belanda mendarat di tanah yang kini hanya menyisakan ingatan samar.
Infrastruktur itu mengubah ritme hidup warga, memindahkan pusat keramaian, dan perlahan menggeser perahu tambangan ke tepi sejarah. Kini, Padangan mungkin tak lagi seheboh masa jayanya. Tapi denyut sejarahnya masih terasa. Anak-anak sekolah masih mendengar kisah Jipang, peziarah masih berdoa di makam para ulama, dan pegiat sejarah lokal berusaha menyusun mozaik masa lalu agar tak hilang di telan waktu.
Di tepi Bengawan, di bawah langit yang sama, Padangan terus mengalir — seperti air sungai yang setia membawa cerita, dari masa lampau menuju masa depan. Mimpi Bupati Bojonegoro Setyo Wahono itu seakan menegaskan: Padangan pernah jaya, dan kini bersiap menyambut babak baru sebagai pusat ekonomi, pendidikan, dan kesehatan di barat Bojonegoro. [kun]






