Lamongan (beritajatim.com) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Lamongan (FEB Unisla) menjalin kerja sama dengan Desa Tunggul, Kecamatan Paciran, untuk mengembangkan ekowisata dan ekonomi hijau berbasis pemberdayaan masyarakat. Program ini menjadi bagian dari inisiatif jangka panjang Unisla Berdampak yang menyasar desa-desa pesisir.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan destinasi wisata berbasis konservasi mangrove, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pendidikan lingkungan bagi warga. Desa Tunggul yang memiliki kawasan mangrove alami akan dijadikan laboratorium alam bagi mahasiswa Unisla untuk melakukan penelitian, inovasi, dan pendampingan masyarakat.
Dekan FEB Unisla, Abid Muhtarom, menjelaskan bahwa program ini diarahkan untuk membentuk desa binaan yang mandiri, adaptif terhadap isu lingkungan, dan berdaya saing ekonomi.
“Pengembangan ekowisata tidak hanya untuk menarik wisatawan, tapi juga menjadi sarana edukasi dan pelestarian alam,” kata Abid, Jumat (8/8/2025).
Sebagai langkah awal, Unisla bersama Pemerintah Desa Tunggul dan Kelompok Sadar Wisata MASKOT melakukan konservasi dengan penanaman pohon pule dan mangrove.
“Kegiatan ini juga menjadi momentum peluncuran rencana pengembangan ekowisata terpadu yang menggabungkan potensi alam, budaya, dan wirausaha lokal,” ujarnya.
Menurut Abid, pemerintah desa setempat menilai kolaborasi ini membuka peluang pengembangan kebijakan lokal berbasis potensi unggulan desa. Dukungan juga datang dari DPRD Lamongan yang menilai program ini sebagai implementasi nyata tridarma perguruan tinggi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat pesisir.
“Ke depan, Unisla berencana memperluas program serupa ke desa-desa pesisir lainnya di Lamongan, dengan tujuan menciptakan kawasan yang lestari, produktif, dan berkelanjutan melalui kolaborasi kampus, pemerintah, dan masyarakat,” ucapnya. [fak/beq]






