Bondowoso (beritajatim.com) – Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Ulum di Desa Kerang, Kecamatan Sukosari, Bondowoso, menggelar kegiatan penanaman jagung secara serentak bersama para santri dan ustadz, Rabu (6/8/2025). Program ketahanan pangan ini merupakan inisiasi dari Kapolri dan dihadiri berbagai unsur forkopimda, antara lain Kapolres, Bupati Bondowoso, Dandim, serta jajaran pemerintahan lainnya.
Pengasuh Ponpes Mambaul Ulum, Nurul Jamal Habaib, menyampaikan bahwa kegiatan ini tak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tapi juga membuka ruang kemandirian bagi seluruh warga pesantren. Program pertanian jagung yang diterapkan juga menjadi bagian dari transisi menuju pola tanam modern yang lebih terukur dan berbasis ilmu.
“Biaya produksi per hektar sebesar Rp5–7 juta. Hasil bersih bisa mencapai Rp12 juta. Apalagi jika produksinya kita bisa tembus 23 ton per hektar dengan harga Rp11 ribu per kilogram. Tinggal dikalikan,” ungkapnya pada BeritaJatim.com melalui sambungan seluler usai acara.
Dalam pelaksanaan awal ini, area yang ditanami jagung seluas 1 hektare dari total 3,5 hektare lahan yang tersedia. Sebanyak 60 orang terlibat sebagai tenaga kerja, terdiri dari 27 pekerja umum, 6 asatidz (ustadz), dan 27 santri.
Menurut Habaib, dari sisi sosial dan ekonomi, penanaman jagung ini sangat membantu masyarakat sekitar, terlebih di tengah ketidakpastian harga komoditas seperti cabai yang selama ini menjadi tumpuan petani.
“Kalau cabai itu gambling. Harga pasar sering tak menentu. Kadang mahal, bisa langsung anjlok. Tapi kalau jagung itu pasti. Ada pakem harga pasar per kilogram,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan bibit unggul dari berbagai pihak. Harapannya, pesantren ke depan bisa mendapatkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk mendukung efisiensi kerja dan menekan biaya produksi.
“Ini bukan hanya soal pertanian. Ini tentang kemandirian. Kami ingin ustadz dan santri mandiri, punya ilmu, bisa jadi petani yang tahu ilmunya,” ucapnya dengan penuh kebanggaan.
Lebih jauh, Habaib menegaskan bahwa seluruh hasil panen jagung nantinya akan digunakan untuk kebutuhan pangan pesantren, tanpa dijual ke luar.
“Hasilnya 100 persen untuk ketahanan pangan pesantren. Jadi bukan sharing profit. Ini yang membuat kami bangga,” pungkasnya.
Program ini menunjukkan bahwa dunia pesantren mampu mengambil peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi, sekaligus menanamkan nilai-nilai kerja keras dan ilmu terapan kepada para santri. [awi/beq]






