Surabaya (beritajatim.com) – National Hospital Surabaya mengungkap meningkatnya risiko penyakit serius di usia produktif, seperti jantung dan stroke, menjelang peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia. Melalui program deteksi dini, National Hospital mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan sebagai bentuk kemerdekaan sejati.
Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 mencatat bahwa sekitar 8 dari 1.000 orang berusia 15 tahun ke atas pernah mengalami stroke. Bahkan, Indonesia menduduki peringkat kelima tertinggi di Asia dalam kasus stroke pada kelompok usia 15–59 tahun.
Sementara itu, penyakit jantung tercatat sebagai penyebab kematian terbesar akibat penyakit tidak menular (NCD), menyumbang lebih dari 30 persen dari total kematian. Banyak kasus jantung berkembang diam-diam tanpa gejala, dan baru terdeteksi saat sudah parah.
Menjawab kondisi ini, National Hospital meluncurkan program pemeriksaan kesehatan menyeluruh berdasarkan usia, dengan harga mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 25 juta.
“Kami percaya bahwa deteksi dini adalah bentuk cinta terhadap diri sendiri dan keluarga. Medical Check Up bukan sekadar formalitas, tapi jendela untuk melihat apa yang tak terlihat dari luar,” ujar CEO National Hospital, Ang Hoey Tiong, Senin (4/8/2025).
Program ini mencakup deteksi risiko penyakit jantung, stroke, diabetes, gangguan metabolik, dan pemeriksaan menyeluruh seluruh tubuh. Sebagai bentuk apresiasi kemerdekaan, promosi juga diberikan khusus bagi mereka yang memiliki nama “Agus”, baik sebagai nama depan maupun bagian dari nama.
Chief Information Officer (CIO) National Hospital, Alexander Ang, menjelaskan bahwa pihaknya berkomitmen pada layanan preventif berbasis teknologi tinggi. Pemeriksaan rutin, menurutnya, adalah langkah kesiapan, bukan ketakutan.
“Yang terbaru, National Hospital baru saja meluncurkan teknologi MRI 3T SIGNA™️ Architect dengan Artificial Intelligence SONIC DL™️,” terangnya.
Teknologi SONIC DL™️ memungkinkan pemindaian jantung dilakukan secepat satu detak jantung per irisan dengan hingga 12 kali akselerasi. “Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi klinis, terutama bagi pasien dengan kondisi kritis atau yang sulit bekerja sama selama proses pemindaian,” imbuhnya.
Direktur National Hospital dr Hendera Henderi SpOG MHPM menegaskan bahwa rumah sakitnya berkomitmen memberikan layanan diagnosis berstandar internasional yang ditopang sistem berbasis Artificial Intelligence.
“Layanan endoskopi, Eras TKR, MRI, biopsi prostat, hingga layanan CT Scan hanya beberapa detik bisa langsung keluar,” paparnya. [asg/but]






