Bondowoso (beritajatim.com) – Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan, menyoroti tajam pola politik yang berkembang di Indonesia dan dampaknya terhadap laju pembangunan ekonomi.
Dalam sambutannya pada Musyawarah Nasional Majelis Alumni IPNU di Pendopo RBA Ki Ronggo, Bondowoso, Sabtu (2/8/2025), Zulhas menyebut bahwa sistem politik yang hanya berorientasi pada keberlangsungan kekuasaan telah menjadi penghambat utama kemajuan bangsa.
“Ada empat hal penting yang perlu kita perhatikan. Pertama soal politik. Politiknya mereka—negara lain—itu politik untuk kemajuan bangsanya. India, misalnya, sudah bisa buat kapal induk, bisa ke bulan. Apalagi Tiongkok. Kita malah berputar-putar,” ungkap Zulhas di hadapan ratusan peserta Munas.
Ia mengkritik keras dinamika politik di tingkat lokal maupun nasional yang menurutnya hanya berkutat pada upaya mempertahankan jabatan. Bukan pada visi jangka panjang atau pembangunan strategis.
“Bupati jangan sampai dijatuhkan wakil bupati, jangan sampai diturunkan DPRD. Gitu terus. Gubernur juga begitu. Fokusnya cuma lima tahunan, bagaimana caranya populer,” ujar Ketua Umum PAN tersebut.
Fenomena politik yang hanya berorientasi elektoral ini, lanjut Zulhas, mendorong para pemimpin mengambil jalan pintas demi mendapatkan simpati rakyat. Salah satunya dengan membagi-bagikan bantuan secara instan.
“Jalan pintasnya, rakyat disedekahi. Dikasih sembako 10 kilogram, uang tunai Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu,” tegasnya.
Lebih jauh, Zulhas menyampaikan keprihatinannya atas perubahan karakter rakyat Indonesia yang dulunya dikenal sebagai pekerja keras dan pejuang, kini cenderung pasif dan bergantung pada bantuan. “Rakyat kita yang dulu patriotik, yang pejuang, sekarang tangannya di bawah. Yang dulu memberi, sekarang meminta,” katanya.
Menurut Zulhas, tidak mungkin Indonesia bisa melesat maju jika rakyatnya tidak kembali menjadi sosok yang produktif, kreatif, dan bekerja keras. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan bantuan sosial dan janji politik. “Mustahil Indonesia bisa maju tanpa rakyat yang kerja keras, kreatif, dan produktif,” tandasnya.
Pernyataan Zulhas ini sontak menjadi peringatan keras terhadap para pemangku kebijakan agar tidak terus-menerus terjebak dalam siklus politik jangka pendek yang pragmatis.
Ia berharap para pemimpin di segala level mampu mengubah arah kebijakan menjadi lebih berorientasi pada pembangunan jangka panjang dan kemandirian nasional.
Acara Munas Majelis Alumni IPNU yang digelar di Bondowoso ini menjadi panggung bagi berbagai tokoh nasional untuk menyampaikan gagasan strategis menyongsong masa depan Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing. (awi/kun)






