Surabaya (beritajatim.com) – Pengibaran bendera bajak laut Jolly Roger dari anime One Piece menjelang HUT ke-80 Republik Indonesia menuai beragam reaksi.
Fenomena ini dinilai tidak sekadar soal hiburan atau fandom pop culture, tapi bentuk ekspresi simbolik dari generasi muda terhadap situasi negara.
Akademisi Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Febriyanto Firman Wijaya, melihat pengibaran bendera kru Bajak Laut Topi Jerami itu sebagai bentuk ‘protes diam’ anak muda terhadap simbol-simbol kenegaraan yang dinilai kehilangan makna.
“Ketika bendera One Piece dikibarkan menjelang 17 Agustus, tampaknya anak muda sedang melakukan ‘protes diam’ melalui simbol global yang mereka maknai lebih relevan,” kata Riyan, Sabtu (2/8/2025).
Gejala ini muncul karena anak muda saat ini semakin kritis dan melek informasi, namun merasa tidak didengar. Mereka lalu mencari simbol baru yang mencerminkan semangat kebebasan, pemberontakan, dan solidaritas.
“Ironisnya, nilai-nilai itu justru mereka temukan dalam karakter bajak laut fiktif seperti Luffy, bukan dalam simbol-simbol kenegaraan,” imbuhnya.
Bendera One Piece atau Jolly Roger milik kru Topi Jerami yang dipimpin Monkey D. Luffy sendiri, bukan sekadar simbol bajak laut, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai seperti kebebasan, keyakinan pribadi, dan persahabatan.
Dalam dunia fiksi One Piece, Jolly Roger kerap digunakan sebagai bentuk perlawanan terhadap kekuasaan absolut, simbol perlindungan, dan kritik terhadap dominasi pemerintah dunia.
Di Indonesia, menjelang HUT ke-80 RI, sejumlah warga mengibarkan bendera tersebut. Bendera hitam bergambar tengkorak dan topi jerami itu terlihat dipasang di bawah Merah Putih, serta di mobil dan truk. [ipl/ian]






