Malang (beritajatim.com) – Universitas Ma Chung hari ini, Selasa, 29 Juli 2025, menggelar Seminar Nasional 2025 dengan tema “The Power of Collective Impact”. Acara akbar sukses menjadi wadah kolaborasi bagi 111 institusi dari seluruh penjuru Indonesia, yang bersama-sama membedah peran inovasi, AI, dan ekonomi digital untuk kemajuan bangsa.
Seminar ini merupakan puncak dari rangkaian Dies Natalis ke-18 Universitas Ma Chung. Sebanyak 250 artikel penelitian dan pengabdian masyarakat dipresentasikan, menunjukkan antusiasme luar biasa dari para akademisi, peneliti, praktisi, hingga birokrat untuk saling berbagi gagasan.
Ketua Pelaksana Seminar Nasional 2025, Bagas Brian Pratama, S.Tr.Ak., M.Tr.Ak., menjelaskan bahwa seminar ini dihadiri oleh total 820 peserta luring dan daring. Tujuan utamanya penyelenggaraan acara monumental ini sebagai wadah bagi seluruh sivitas akademik di Indonesia untuk saling berbagi wawasan, memperkaya pengalaman, dan mempertajam penalaran kritis.
“Fokus utamanya adalah bagaimana sinergi dari inovasi, AI, dan ekonomi digital dapat menjadi kekuatan kolektif untuk pemberdayaan sosial serta menumbuhkan budaya literasi di era digital,” jelas Bagas.
Salah satu sorotan utama datang dari wawancara mendalam dengan Ketua Pelaksana Seminar, Bagas Brian Pratama, S.Tr.Ak., M.Tr.Ak. Ia secara terbuka membahas fenomena AI yang seringkali ‘ngawur’ dan tidak bisa sepenuhnya diandalkan, terutama dalam bidang yang membutuhkan presisi seperti akuntansi.
“Kami di Universitas Ma Chung, khususnya di Prodi Akuntansi, melihat betapa semaraknya digitalisasi termasuk AI. Maka per tahun ini kami mengganti kurikulum,” jelas Bagas. “Prodi S1 Akuntansi kami perbarui menjadi Prodi S1 Digital Business Accounting. Ini jawaban kami atas tantangan yang ada.”
Bagas memaparkan bahwa perubahan kurikulum ini sangat fundamental. Setiap mata kuliah akan memiliki satu sesi khusus yang membahas penerapan AI. Mahasiswa bahkan diwajibkan belajar programming dan machine learning selama empat semester, sebuah langkah yang disebutnya menjadikan Ma Chung satu-satunya prodi akuntansi di Malang dengan kurikulum seintensif itu.
“Seringkali ada pernyataan AI itu ngawur, dalam hitungan-hitungan juga sering keliru. Itu fenomena nyata,” akunya. “Maka, muatan kurikulum kami arahkan agar mahasiswa tahu cara penggunaan yang tepat. Sama seperti kita menggunakan Google, tidak boleh ‘kosong’. Anda harus punya basisnya dulu, baru AI bisa dipakai untuk pengembangan.”
Ia menekankan bahwa orisinalitas ide harus tetap berasal dari manusia. “Saat kita membuat prompt pun kita harus sudah punya gambaran. AI itu hanya menyempurnakan narasi, tetapi originalitas idenya itu harus ada di kita,” tegasnya.
Skala nasional seminar ini terbukti dari partisipasi 111 institusi yang beragam, dari perguruan tinggi terjauh seperti Universitas Islam Riau dan Universitas Lampung, hingga lembaga pemerintah seperti OJK dan berbagai dinas. Dari total 250 artikel yang dipresentasikan, sekitar 40% atau 100 artikel berasal dari dosen dan mahasiswa Universitas Ma Chung.

Diskusi dibagi ke dalam 10 ruang terpisah, mencakup bidang Ekonomi dan Bisnis, Bahasa, Teknologi, Kesehatan, hingga Pengabdian Masyarakat. Luaran utama dari ratusan riset ini akan diterbitkan dalam prosiding, dengan beberapa artikel pilihan (selected papers) berkesempatan untuk terbit di jurnal Sinta bereputasi.
Kolaborasi lintas sektor diperkuat dengan kehadiran narasumber ahli, di antaranya Tommy Zhu dan Andy Febrico Bintoro dari Youthpreneurs, Farid Faletehan selaku Kepala OJK Malang, Untung Supardi selaku Kepala Kanwil DJP Jawa Timur III, serta Cita Mellisa selaku Kepala Kantor Perwakilan BEI Jawa Timur.
Universitas Ma Chung tidak hanya berhasil menciptakan wadah dialog nasional, tetapi juga menunjukkan komitmen nyata dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi kompleksitas era digital secara kritis dan beretika. Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra M. Taneo, MS., M.Sc., menyatakan bahwa acara ini meneguhkan peran universitas sebagai katalisator.
“Seminar ini tidak hanya menjadi panggung akademis, tetapi juga forum pemikiran dan aksi nyata yang menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan masyarakat, serta menumbuhkan budaya berpikir kritis di tengah derasnya arus digitalisasi,” ungkapnya di sela acara. (dan/ian)






