Jember (beritajatim.com) – Palang Merah Indonesia (PMI) mewaspadai potensi krisis bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, memicu krisis kemanusiaan.
Wakil Sekretaris Umum Palang Merah Indonesia Lilik Niamah mengatakan, sulitnya mengakses BBM di lapangan bisa mengganggu operasional kendaraan yang digunakan untuk pelayanan kesehatan di rumah sakit, puskesmas, klinik, dan PMI sendiri.
Khusus untuk PMI, Lilik khawatir, krisis BBM bisa menyebabkan terkendalanya pemenuhan kebutuhan donor untuk golongan darah yang langka dalam situasi darurat, mengingat sebagian pendonor golongan darah langka ini berdomisili jauh dari Unit Donor Darah PMI.
“Pendonor golongan darah langka seperti A rhesus negatif tidak selalu ada dekat kantor UDD PMI. Ada di beberapa tempat. Ada yang di Ambulu dan Lumajang. Biasanya kalau dibutuhkan, kami akan telepon agar mereka bisa hadir atau kami yang menjemput. Kalau dekat, mereka biasanya bersedia langsung hadir di UDD. Kalau jauh, kami yang menjemput,” kata Lilik.
Lilik berharap hal ini segera diatasi agar tidak berdampak pada masalah kemanusiaan. “Dalam situasi seperti ini (darurat), penyediaan darah butuh percepatan. Kalau sampai tidak ada ketersediaan BBM untuk menempuh jarak yang jauh, perlu dilakukan antisipasi,” katanya.
Lilik mengusulkan agar Pertamina menyediakan depo khusus bagi ambulance rumah sakit, puskesmas, klinik, dan PMI untuk mengisi BBM. “Ini penutupan jalur Gumirit Jember-Banyuwangi berjalan selama dua bulan. Situasi belum normal sekian waktu,” katanya.
Saat ini, warga Jember kesulitan memperoleh BBM karena terhambatnya distribusi dari Pertamina. Alhasil antrean panjang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Jember, Sabtu (26/7/2025) malam dan Minggu (27/7/2025) pagi.
Tidak semua kendaraan yang antre berhasil memperoleh BBM. Bahkan saat ini harga BBM eceran di pasar sudah mencapai Rp 30 ribu per botol.
Sales Brand Manager Pertamina Area Jember Hendra Saputra mengatakan, ini bukan persoalan ketiadaan stok, namun kemacetan arus lalu lintas di Banyuwangi.
“Mobil-mobil tangki pengisian BBM tidak bisa kembali ke Banyuwangi. Kemacetan ke arah Pelabuhan Ketapang sampai 40 kilometer, ditambah penutupan jalan di Gumitir, sehingga 24-25 Juli kita lumpuh di sana,” katanya. [wir]






