Surabaya (beritajatim.com) – Kemacetan panjang yang terjadi di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur sejak beberapa hari lalu, memberikan dampak kerugian yang signifikan bagi Perusahaan Otobus (PO) dan Ekspedisi.
PO Bus banyak yang kehilangan pelanggan setia mereka karena keluhan keterlambatan waktu tiba yang tidak masuk akal. Kondisi ini, bahkan menyebabkan pengurangan jumlah armada (bus) yang beroperasi, akibat merosot tajamnya jumlah penumpang.
Admin PO Gunung Harta, Arum Khasana, menyatakan bahwa perusahaannya menghadapi banyak komplain dari pelanggan sejak terjadi kemacetan parah di lintas pelabuhan Ketapang-Gilimanuk.
“Pelanggan responnya bervariasi ya. Kadang ada yang memahami, kadang tidak. Ada yang kemudian (komplain) tidak mau tahu, karena harus segera berangkat menyeberang ke Pulau Bali,” kata Arum di Surabaya, Minggu (27/7/2025).
Arum menjelaskan, kondisi kursi penumpang bus rute Surabaya-Denpasar yang biasanya terisi penuh kini sudah banyak yang kosong. “Gunung Harta sehari-hari biasanya memberangkatkan sebanyak dua bus dengan rata-rata sebanyak 30 penumpang,”.
Arum menambahkan, kejadian yang berlangsung selama berhari-hari ini tidak hanya memperpanjang durasi perjalanan bus dan truk logistik Gunung Harta hingga puluhan jam, tetapi juga mengakibatkan pembengkakan biaya operasional.
“Seharusnya bus itu datang pukul 05.00 WIB pagi. Kemarin itu baru sampai pukul 20.00 WIB malam. Untuk operasionalnya juga menjadi bertambah, dan berpengaruh juga fisik dari supir-supir kami yang mau tidak mau harus lembur,” bebernya.
Terkait hal tersebut, Arum pun menyebut bahwa direksi PO Gunung Harta telah menyampaikan komplain kepada pemerintah, melalui PT. Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP).
“Kalau keluhan (ke pemerintah), pasti kita sampaikan terus. Cuma mau gimana lagi karena kapalnya kan banyak yang tidak beroperasi ya,” urainya.
Sementara itu, Swastika, pemilik perusahaan ekspedisi Indah Group, menyatakan bahwa perusahaannya mengalami kerugian hingga 40 persen akibat kemacetan di Pelabuhan Ketapang.
“Kalau sekarang (kita kirim barang) satu minggu pun belum tentu bisa sampai. Untuk itu, kami sudah tidak berani menerima barang yang jurusannya ke Bali karena dampaknya begitu luar biasa, termasuk omzet menurun hingga 30-40 persen,” ungkap Swastika.
Saat ini, Swastika pun hanya bisa pasrah dan berharap kepada pemerintah agar segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
“Kami selaku ekspedisi hanya menunggu sinyal saja. Doa kami, semoga masalah di Ketapang maupun di Gilimanuk, yang membuat kami kesulitan ini, dapat segera terselesaikan,” harap Swastika. [ram/aje]






