Surabaya (beritajatim.com) – Perayaan 50 tahun Samator Group tak hanya jadi momen selebrasi, tapi juga ajakan untuk merawat lingkungan. Lewat ‘Samator 50 Festival’ yang digelar di bantaran Sungai Jagir Surabaya, Samator bersama Yayasan Harmoni Tirta Lestari (Hartari) resmi membuka tahap pertama Jogging Track Sungai Jagir.
Festival ini diawali dengan sedekah bumi, di mana dilepaskan merpati, tebar benih ikan, hingga eco enzyme ke aliran sungai. Semua dilakukan sebagai simbol komitmen menjaga ekosistem air dan ruang publik kota. Di malam hari, festival dimeriahkan pesta kembang api, dan kehadiran band Coldiac sebagai bintang tamu.
CEO Samator, Rachmat Harsono, menyebut festival ini bukan sekadar perayaan ulang tahun, tapi langkah awal untuk menghadirkan kembali wajah sungai yang bersih, sehat, dan hidup.
“Sungai Jagir ini milik bersama. Jogging track ini adalah simbol cinta lingkungan. Kami bersyukur bisa menjadi bagian awal dari semangat baru ini,” kata Rachmat dalam sambutannya, Sabtu (26/7/2025).
Ia berharap ke depan lintasan jogging ini bisa menyambung dari kawasan Klaska Residence hingga ke Pondok Candra, menjadi jalur hijau bagi masyarakat untuk berlari, jalan santai, bermain, hingga menikmati senja di tepi sungai.
“Bayangkan ruang terbuka hijau yang hidup. Tempat anak-anak bermain, warga saling menyapa. Bukan lagi ruang buangan, tapi ruang kehidupan,” lanjutnya.
Ketua Dewan Pengawas Hartari, Mohammad Nuh, menegaskan pentingnya menghidupkan kembali sungai sebagai bagian dari peradaban. “Negara maju pasti sungainya bersih. Dulu Sungai Jagir adalah kebanggaan. Tapi karena perkembangan zaman, sungai jadi got. Sekarang kita ingin membalikkan itu semua,” ujarnya.
Nuh menyebut perlu empat langkah, yakni membangun kesadaran publik, membiasakan perilaku ramah lingkungan, memberi apresiasi pada yang peduli, dan membangun ekosistem hidup di sekitar sungai.
“Tidak bisa dilepaskan hanya fisiknya semata. Tapi ada aktivitas yang menghidupi sungai, mulai aktivitas olahraga, UMKM, dan lainnya. Ajak anak-anak sekolah belajar di sini, itu bagian dari membangun peradaban unggul,” ungkapnya.
Sementara itu, mewakili Wali Kota Surabaya, Agus Iman Sonhaji menilai inisiatif ini sebagai model kolaborasi pentahelix: melibatkan bisnis, pemerintah, akademisi, media, dan warga. “Dulu ekologi dan ekonomi dianggap bertolak belakang. Tapi Samator menunjukkan dua-duanya bisa berjalan beriringan,” kata Sonhaji.
Ia menyebut, ide jogging track ini pertama kali muncul dari gedung Samator di seberang bantaran sungai. Sejak itu, Pemkot, Pemprov, Perum Jasa Tirta (PJT 1), dan kampus-kampus seperti ITS dan UGM ikut terlibat. “Lingkungan itu memang menjadi sesuatu yang mau tidak mau harus kita jaga. Ini tidak bicara tentang masa sekarang, tapi masa yang akan datang, yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang,” ajaknya.
Jogging track di bantaran Sungai Jagir ini menjadi langkah awal memulihkan ruang publik kota. Samator, Hartari, bersama masyarakat dan pemangku kepentingan, berharap ini bukan akhir, tapi awal dari budaya merawat lingkungan yang berkelanjutan. [ipl/kun]






