Sidoarjo (beritajatim.com) – DPC PDI Perjuangan (PDIP) Sidoarjo akan menggelar peringatan peristiwa kelam Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996) secara serentak di enam titik, dengan doa bersama dan penyalaan ribuan lilin.
Plt Ketua DPC PDI-P Sidoarjo, Hari Yulianto, mengatakan acara tersebut menjadi ajang refleksi dan pengingat pentingnya demokrasi tanpa kekerasan. “Surat instruksi untuk pelaksanaan acara sudah kami sampaikan kepada struktural partai hingga tingkat desa dan kelurahan,” ujar Hari usai rapat finalisasi acara, Jumat (25/7/2025).
Hari menegaskan, doa bersama digelar sebagai bentuk spiritualitas kader agar peristiwa serupa tak terulang lagi di Tanah Air. “Apalagi dengan cara kekerasan sebagaimana fakta sejarah peristiwa Kudatuli,” tegasnya.
Ia juga menyoroti sikap Megawati Soekarnoputri yang tetap patuh pada hukum meski memiliki kuasa sebagai presiden. “Saat Ibu Megawati menjadi presiden, tidak menggunakan kekuasaannya untuk balas dendam politik kepada pihak-pihak yang terlibat dalam Kudatuli 96. Namun menyerahkan sepenuhnya kepada aparatur hukum sebagai pihak berwenang,” lanjut Hari.
Menurut legislator asal Waru itu, Kudatuli adalah bagian dari perjalanan panjang demokrasi di Indonesia, bukan sekadar sejarah internal partai. “Peristiwa Kudatuli 96 bukan sekadar catatan perjalanan sejarah PDI menjadi PDI Perjuangan, tapi perjalanan berdemokrasi bangsa dan negara kita,” tandasnya.
Sebagai informasi, Kudatuli bermula dari terpilihnya Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI lewat Kongres Luar Biasa Surabaya 1993, yang tidak direstui penguasa saat itu. Ketegangan memuncak dengan penyerbuan ke kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, pada 27 Juli 1996, yang memicu kerusuhan hingga menyebabkan korban jiwa dan hilangnya sejumlah orang.
Sementara itu, Plt Sekretaris DPC PDI-P Bambang Riyoko menyampaikan, ribuan kader akan mengikuti acara ini. “Secara serentak di enam tempat itu, para kader juga akan menyalakan ribuan lilin dilanjutkan dengan nonton tayangan peristiwa Kudatuli,” ungkapnya.
Kegiatan akan melibatkan pengurus DPC, PAC dari 18 kecamatan, perwakilan ranting dari 346 desa dan kelurahan, hingga para sesepuh partai. [kun]






