Pasuruan (beritajatim.com) – Cuaca tak menentu akibat anomali iklim berdampak besar terhadap petani garam di Kota Pasuruan. Hingga pertengahan Juli 2025, produksi garam belum menunjukkan tren stabil.
Ketua Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) Kota Pasuruan, Abdus Somad, menyebut biasanya petani sudah panen pada bulan Juli. Namun kini, baru sebagian kecil petani yang bisa panen, itupun hasilnya jauh dari maksimal.
“Kalau hitungannya sekarang sudah musim kemarau, seharusnya produksi garam mulai lancar. Tapi cuaca masih sering hujan dan mendung, ini sangat mempengaruhi,” kata Somad.
Menurut data BMKG, anomali cuaca telah terdeteksi sejak Mei 2025. Kondisi ini diprediksi akan berlangsung hingga Oktober, sehingga berdampak pada semua sektor pertanian musiman, termasuk garam.
Somad menjelaskan, dalam kondisi normal, panen garam di lahan ukuran 50×18 meter bisa menghasilkan 7–8 ton. Tapi tahun ini, jumlahnya bisa kurang dari 50 persen.
“Kalau cuaca mendukung, awal Juli itu kami sudah bisa produksi banyak. Tapi karena gangguan cuaca, hasil panen jadi turun drastis,” tambahnya.
Mahmud (67), petani garam asal Kelurahan Panggungrejo, Kecamatan Panggungrejo, mengaku lahan miliknya baru bisa panen satu kali sejak awal Mei. Padahal biasanya dia bisa panen dua hingga tiga kali dalam periode yang sama.
Ia menjelaskan, proses produksi kali ini memakan waktu hingga 2,5 bulan. Hasilnya pun hanya 5 ton, jauh dari target normal.
“Biasanya 20 hari sudah bisa panen, sekarang nunggu 2,5 bulan. Mungkin tanggal 20 Juli nanti baru panen kedua,” ujarnya pasrah.
Petani berharap kondisi cuaca bisa segera stabil agar produksi kembali normal. Mereka juga berharap pemerintah bisa memberikan dukungan atau solusi bagi petani garam terdampak anomali cuaca. [ada/aje]






