Jombang (beritajatim.com) – Di sebuah ruangan bersejarah di kantor Pemkab Jombang — Ruang Bung Tomo, Sabtu 19 Juli 2025 — secercah harapan bagi gerakan ekonomi rakyat kembali dinyalakan. Bukan sekadar pertemuan formal, tapi sebuah ikhtiar kolektif yang digagas Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkop dan UM) Kabupaten Jombang demi satu tujuan besar: memperkuat kelembagaan koperasi di Bumi Kota Santri.
Plt. Kepala Dinas Koperasi dan UM, Gatut Wijaya, berdiri di depan para peserta, suaranya lantang tapi penuh empati. Ia menegaskan, koperasi bukan hanya soal simpan pinjam atau unit usaha, melainkan jantung denyut ekonomi rakyat.
“Koperasi harus menjadi motor penggerak ekonomi rakyat. Maka, penguatan kelembagaan menjadi sangat krusial,” serunya, seolah ingin membangkitkan semangat yang sempat pudar.
Bukan hanya Gatut yang bicara. Hadir pula jajaran narasumber dari berbagai lini — mulai dari Direktorat Jenderal Pajak, Dinas Penanaman Modal dan PTSP, BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan, hingga perwakilan bank dari Himbara.
Mereka bukan datang sebagai birokrat, melainkan sebagai mitra yang membuka jalan: menjelaskan aturan, mempermudah layanan, memperkuat legalitas koperasi yang seringkali terseok oleh minimnya pemahaman dan akses.
Tak ketinggalan, Ketua Komite Daerah Masyarakat Produktif (KDMP) Jombang dan para pendamping dari tingkat kecamatan turut hadir, menjadi saksi sekaligus bagian dari ikhtiar bersama. Diskusi hangat pun mengalir di sesi tanya jawab — interaksi yang bukan sekadar formalitas, melainkan wadah saling belajar, bertanya, bahkan berbagi keresahan.
Di akhir acara, semua yang hadir berfoto bersama. Bukan ritual dokumentasi, tapi simbol sebuah komitmen: bersama-sama menguatkan koperasi Jombang, agar lebih kuat, lebih sehat, dan lebih mampu menjadi pilar ekonomi rakyat.
Dari ruang Bung Tomo, suara itu menggema: bahwa koperasi bukan hanya milik pengurusnya, tapi milik masyarakat — dan harapan itu, kini sedang dirajut bersama di Jombang. [suf]






