Jombang (beritajatim.com) — Selama hampir sepekan, ketakutan itu mengendap di benak warga Desa Jombatan dan Podoroto, Kecamatan Kesamben, Jombang. Bukan karena hantu atau penjahat, melainkan teror dari kawanan monyet liar yang tiba-tiba menyerang manusia.
Tiga warga sudah jadi korban, termasuk seorang bocah tujuh tahun yang harus dilarikan ke rumah sakit. Warga yang semula hanya menggerutu mulai benar-benar resah. Di antara mereka ada yang nekat memberi sayembara: Rp2 juta untuk siapa saja yang bisa menangkap atau menembak mati monyet-monyet itu.
Sabtu pagi, 19 Juli 2025, Desa Jombatan dan Podoroto mendadak seperti arena perburuan. Para penembak jitu datang dari berbagai penjuru Jombang. Ada yang dari Wonosalam, ada yang dari Mojoagung, dan semua membawa senapan angin serta anjing pelacak. Tak ubahnya perburuan di hutan liar, tapi ini terjadi di tengah kampung yang gelisah.
Di sebuah rumpun bambu di belakang rumah Mbah Ran di Desa Jombatan, anjing-anjing pemburu mendadak menggonggong keras. Para pemburu tahu, inilah saatnya. Di atas batang bambu, seekor monyet terlihat bergelantungan. Matanya liar, cakarnya mencengkeram, dan taringnya tampak siap menerkam siapa saja.
Tak ada waktu ragu. Seorang pemburu mengangkat senapan, membidik…lalu dor! Peluru melesat. Monyet itu terhuyung, sempat berpegangan di batang bambu, lalu jatuh terhempas ke tanah.
Anjing-anjing pelacak berlari menyambut, dan dalam sekejap, ancaman yang selama ini menghantui warga terbaring tak bernyawa. Cakar dan giginya yang runcing masih terlihat mengerikan, bahkan saat tubuhnya sudah masuk ke dalam karung.
Riza Maulana, petugas dari Pos Damkar Mojoagung, membenarkan penangkapan itu. “Seekor berhasil diamankan di Jombatan sekitar pukul lima sore,” katanya.
Namun perburuan belum usai. Di Desa Podoroto, tim Damkar masih menyisir hingga malam, tapi belum berhasil menemukan dua monyet lainnya yang diduga masih berkeliaran.

“Hari ini pencarian kami lanjutkan, kami bagi dua tim. Karena masih ada dua ekor yang bebas,” tambah Riza saat dikonfirmasi Minggu pagi (20/7/2025).
Ketegangan di dua desa itu belum sepenuhnya reda. Warga masih menanti, sambil berharap tak ada lagi korban jatuh oleh teror monyet-monyet liar yang seolah menantang manusia di wilayah yang selama ini damai.
Ini bukan sekadar perburuan hewan, tapi pertarungan antara rasa takut dan keberanian — dan sebuah pertanyaan yang masih menggantung di udara: Dari mana datangnya kawanan monyet ganas ini? [suf]






