Malang (beritajatm.com) – Temuan menarik dalam dunia tata kelola perusahaan datang dari Universitas Islam Malang (Unisma). Sebuah riset inovatif membuktikan bahwa praktik organisasi yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), meskipun tanpa kebijakan formal, dapat menjadi benteng pertahanan terhadap praktik penipuan (fraud) ketika dikombinasikan dengan kontrol internal yang efektif.
Penelitian ini dilakukan oleh Irfan Hadeef bin Adam, mahasiswa asal Brunei Darussalam dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unisma. Dalam sidang skripsi bertajuk International Thesis Examination yang digelar pada Rabu (16/7/2025), Irfan memaparkan hasil studinya berjudul The Effect of Implementing Sustainable Development Goals and Effectiveness of Internal Controls Towards Fraud Prevention.
Riset ini mengambil studi kasus pada Alif Technologies, perusahaan teknologi terkemuka di Brunei Darussalam yang juga memiliki cabang di India. Alif Technologies, penyedia solusi ICT, menjadi objek penelitian Irfan.
“Riset saya mengungkap fakta bahwa meskipun perusahaan tersebut tidak secara resmi mengadopsi kebijakan SDGs, etos kerja dan praktik operasional hariannya secara inheren selaras dengan beberapa pilar SDGs,” ujarnya dengan bahasa Indonesia yang cukup baik.
Di bawah bimbingan Assoc. Prof. Dr. Nur Diana, S.E., M.Si., CMA, CBV, CERA, dan Assist. Prof. Dr. Dwiyani Sudaryanti, S.E., M.Si., Ak., CA., Irfan menemukan adanya keselarasan dengan tujuan SDGs seperti Kesehatan dan Kesejahteraan (SDG 3), Pendidikan Berkualitas (SDG 4), Kesetaraan Gender (SDG 5), Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (SDG 12), serta Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Kuat (SDG 16).
Penelitian ini menegaskan pentingnya budaya organisasi yang kuat, berbasis nilai transparansi, inklusivitas, dan akuntabilitas sebagai benteng pertama melawan fraud.
“Kami menemukan bahwa praktik-praktik yang selaras dengan SDGs, bahkan jika tidak diformalkan, secara signifikan mengurangi peluang fraud dan memperkuat integritas operasional,” ungkap Irfan Hadeef bin Adam.
Beberapa temuan penting yang disoroti dalam studi ini di antaranya, pertama, budaya SDG dapat menjadi pencegahan tidak langsung terhadap fraud. Komitmen Alif Technologies pada lingkungan kerja yang mendukung, pengembangan karyawan, dan optimalisasi sumber daya terbukti menciptakan suasana kerja yang tidak subur bagi tindakan penipuan.
“Kedua kontrol internal tetap jadi pilar utama. Kerangka kontrol internal yang solid, seperti pemisahan tugas (segregasi), proses persetujuan berlapis, dan audit reguler, terbukti sangat efektif dalam mengelola risiko dan menjaga integritas,” ujar Irfan.
Ketiga, sinergi antara penerapan nilai-nilai SDGs dan kontrol internal yang kuat menciptakan lingkungan organisasi yang jauh lebih tangguh terhadap risiko fraud. Pelatihan etika bagi karyawan, misalnya, tidak hanya meningkatkan profesionalisme (SDG 4), tetapi juga memperkuat budaya akuntabilitas (SDG 16).
Kualitas dan relevansi global penelitian ini mendapat pengakuan dari Dr. Shadi Emad Alhaleh dari Hankou University, Wuhan, China, yang hadir sebagai penguji internasional.
“Saya sangat mengapresiasi karya mahasiswa ini yang mampu memberikan kontribusi praktik signifikan dalam pengembangan SDGs dan kontrol internal di industri negara Brunei Darussalam,” ujar Dr. Shadi.
Assoc. Prof. Dr. Nur Diana selaku pembimbing mengungkapkan kebanggaannya. “Kami sangat bangga dengan pencapaian Irfan. Temuan ini memberikan wawasan berharga tidak hanya untuk perusahaan seperti Alif Technologies tetapi juga bagi pembuat kebijakan dan organisasi lain yang ingin memperkuat kerangka tata kelola mereka,” katanya.
Penelitian ini diharapkan menjadi rujukan praktis bagi pelaku industri di sektor jasa maupun manufaktur. “Semoga ini bisa jadi rujukan khususnya di Brunei Darussalam untuk mulai mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dan memperkuat kontrol internal sebagai strategi komprehensif untuk memerangi fraud dan membangun kepercayaan jangka panjang dari para pemangku kepentingan,” kata Irfan menutup. [dan/suf]






