Probolinggo (beritajatim.com) – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Probolinggo masih cukup tinggi. Baru memasuki pertengahan tahun 2025, tercatat sudah ada 43 laporan kekerasan yang masuk ke Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA).
Dari jumlah itu, 16 korban adalah perempuan, sementara 27 lainnya adalah anak-anak. Angka ini menjadi perhatian, karena hanya dalam waktu enam bulan jumlahnya sudah mendekati total kasus sepanjang tahun sebelumnya.
Jika melihat data lima tahun terakhir, angka kekerasan ini naik turun. Tahun 2021 ada 45 kasus, lalu sedikit menurun di 2022 menjadi 44. Tapi di 2023, jumlahnya melonjak menjadi 53 kasus yang tertinggi sejauh ini. Pada 2024, sempat turun menjadi 51 kasus, namun angka kekerasan terhadap anak justru meningkat.
Kepala Dinsos PPPA Kota Probolinggo, Rey Suwigtyo, menyampaikan bahwa penanganan setiap kasus dilakukan bersama berbagai pihak. “Kami bekerja sama dengan lembaga lain, mulai dari pendampingan korban, bantuan hukum, hingga proses rehabilitasi,” jelasnya, Rabu (16/7/2025).
Ia menambahkan, pihaknya terus mendorong upaya pencegahan agar kekerasan bisa ditekan. “Kami aktif menyosialisasikan gerakan stop kekerasan terhadap anak dan perempuan. Perlindungan mereka jadi prioritas kami,” ujarnya.
Pemerintah Kota Probolinggo berharap, melalui kerja sama dan edukasi yang berkelanjutan, masyarakat semakin sadar pentingnya melindungi perempuan dan anak dari berbagai bentuk kekerasan. (ada/ted)






