Surabaya (beritajatim.com) – Hari Minggu (13/7/2025) pagi, ada yang berbeda di sekitar kantor kelurahan Dukuh Kupang. Biasanya situasi di sekitar kantor kelurahan itu sepi karena mayoritas warga sedang menikmati istirahat. Namun, suasana khusyuk dan meriah mewarnai hari Minggu kedua di bulan Juli 2025 lantaran adanya acara Gelar Ruwatan Sedekah Bumi warga Dukuh Kupang.
Ruwatan Sedekah Bumi ini merupakan acara tahunan yang sudah berlangsung sejak tahun 1970. Dalam acara ini, para warga diminta untuk membawa hasil bumi untuk dibawa ke menuju Punden Ngesong tempat dimana warga Dukuh Kupang percaya bahwa lokasi tersebut punya historis dengan Sunan Ampel.
Di tengah lokasi punden itu, terdapat sebuah sumur yang diyakini telah ada sejak zaman Sunan Ampel. Berdasarkan cerita yang berkembang, dahulu ada murid Sunan Ampel bernama mbah Pilang. Mbah Pilang sejatinya ingin menemui istrinya di Mojokerto. Namun, ditengah perjalanan ia merasa haus. Ia pun menggali tanah dan muncul sumber air.
Temuan itu, lantas dilaporkan Mbah Pilang ke Sunan Ampel. Sumur itu lantas dijaga dan dimanfaatkan masyarakat hingga wilayah Sukomanunggal. Warga percaya, sumur tersebut memiliki kualitas air yang baik hingga bisa langsung diminum tanpa dimasak terlebih dahulu.
“Ini warisan budaya yang luar biasa. Kami berharap generasi muda ikut menjaga supaya tradisi tidak hilang tergerus zaman,” kata Fahmi Fitra, Lurah Dukuh Kupang.
Dalam ruwat sedekah bumi Dukuh Kupang ini, warga kompak mengenakan pakaian adat. Acara dibuka dengan penampilan Tari Remo oleh anak-anak asli Dukuh Kupang. Usai resmi dibuka, warga lantas berjalan kaki sepanjang 1,7 kilometer menuju Punden Ngesong diiringi oleh suara tabuhan drum band yang memecah hening pagi hari.
Sejumlah warga juga tampak membawa sesaji berisi bahan makanan. Tidak lupa, Tumpeng raksasa berbentuk naga karya yang menjadi ciri khas dalam acara ini pun turut digotong menuju lokasi.
Sambil terus berjalan, Atraksi Anoman Obong hingga dolanan tradisional anak-anak turut memeriahkan acara Di barisan tengah, Para lansia yang tergabung dalam Bohay Lansia Dahlia Mahabharata juga tampil memeriahkan kirab dengan busana warna-warni.
Penampilan pamungkas datang dari Jaranan dan Reog Singo Sekar Budoyo. Kepala singa raksasa dengan bulu merak mekar ditampilkan dengan penuh tenaga oleh penari, membuat warga bersorak kagum.
“Ini diikuti hampir seluruh warga RT se RW 6 Dukuh Kupang,” imbuh Fahmi.
Salah satu warga, Siti Rohmah (45), yang ikut membawa tumpeng, mengaku bangga bisa terlibat langsung dalam acara ini. Ia mengatakan, acara ini bukan hanya sebagai bentuk menjaga hubungan dengan alam dan tuhan YME, namun juga sebagai ajang untuk mempererat silaturahmi antar warga.
“Setiap tahun saya selalu ikut. Rasanya senang karena ini bukan sekadar tradisi, tapi juga ajang silaturahmi warga,” ujarnya.
Setiba di Punden Ngesong, acara dilanjutkan dengan doa bersama. Suasana mendadak hening. Para peserta khusyuk mengikuti setiap rangkaian doa yang dipanjatkan. Semua yang hadir berharap agar selalu terhindar dari bahaya dan selalu dijaga oleh sang pencipta. (ang/but)






