Ponorogo (beritajatim.com) – Para petani padi di Ponorogo terus dirundung cemas. Serangan hama wereng yang meluas dan cepat menyebar membuat puluhan hektare sawah rusak, bahkan tak sedikit yang terancam gagal panen total. Di tengah situasi ini, para petani berharap pemerintah daerah, terutama Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo segera hadir memberikan solusi konkret.
Ahmad Subekhi, petani asal Kelurahan Mangunsuman, mengungkapkan keprihatinannya. Dia menyebut serangan hama coklat kecil ini sebagai kejadian luar biasa yang belum pernah Ia alami dalam skala sebesar ini. Subekhi panggilan akrabnya berharap pemerintah tak tinggal diam dan segera mendistribusikan bantuan pestisida secara merata ke wilayah terdampak. Sebab menurutnya, serangan ini tak hanya terjadi di wilayah Bangunsari, tetapi juga menyerang sawah lain di sentra padi Ponorogo.
“Jangan datang hanya saat panen raya saja, saat ini petani butuh pendampingan untuk mengatasi hama wereng. Bagaimana kebijakannya, karena ini menyangkut stok pangan nasional,” kata Subekhi, ditulis Jumat (11/7/2025).
Harapan senada juga disampaikan Junaidi, petani lainnya. Dia menyebut pentingnya kecepatan dalam penanganan hama wereng. Menurutnya, berbeda dengan jenis hama lain, wereng bisa berkembang biak dengan sangat cepat jika tak segera ditangani.
“Kalau hama wereng itu beda sama belalang, besok-besok disemprot nggak apa-apa. Tapi kalau penyemprotan hama wereng kok ditunda, ya sudah bisa selesai,” ungkapnya pasrah.
Permintaan petani bukan tanpa alasan. Data dari Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo menunjukkan lonjakan signifikan luas lahan yang terserang wereng. Jika pada akhir Juni hanya tercatat 27 hektare terdampak, kini angka itu melonjak drastis menjadi 89,79 hektare.
Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dispertahankan Ponorogo, Suwarni, menjelaskan bahwa pertumbuhan populasi wereng sangat dipengaruhi kondisi cuaca.
“Pertumbuhan wereng meningkat pesat karena kondisi cuaca belakangan yang kadang panas dan hujan,” terang Suwarni. [end/aje]






