Jombang (beritajatim.com) – Di tengah arus budaya dominan yang serba rapi dan normatif, ada satu suara yang tak pernah lelah berteriak dari bawah tanah Jombang. Suara itu bukan sekadar dentuman drum atau distorsi gitar, melainkan jerit kreativitas yang tak mau dibungkam.
Namanya Jombang Ground Move On (JGMO), sebuah ruang alternatif bagi anak-anak muda pecinta musik keras yang tahun ini genap 12 tahun berdiri. Tak sekadar konser, JGMO adalah bentuk perlawanan, ekspresi, dan harapan yang lahir dari sisi lain Kota Santri—tempat di mana musik underground tetap menyala, meski seringkali dihadang stigma dan minim dukungan.
Pada Minggu, 6 Juli 2025, perhelatan musik kembali mengguncang Garden Caffe. Namanya Jombang Ground Move On #6, sebuah ritual tahunan para pecinta musik keras yang tahun ini datang dengan tema tajam: Back Infecting The World.
Bukan sekadar konser. Ini adalah pernyataan sikap. Sebuah ruang alternatif yang telah bertahan lebih dari satu dekade, menampung gairah dan ekspresi anak muda yang kerap kali luput dari perhatian arus utama.
Sejak lahir pada tahun 2012, Jombang Ground Move On (JGMO) tak pernah absen menjadi corong bagi skena musik underground. Tahun ini, usia mereka genap 12 tahun. Dan di usia yang tak muda untuk sebuah komunitas mandiri, JGMO #6 hadir dengan barisan amunisi: 10 band dari berbagai sub-genre—Hardcore, Death Metal, Black Metal, hingga Gothic Metal. Semuanya bersatu membangun atmosfer keras, namun penuh solidaritas.
Tak hanya dari Jombang, gelaran kali ini turut menghadirkan Pourriture, band death metal asal Bandung. Bukti bahwa gema JGMO telah menular jauh, menembus batas kota dan stigma.
Om Bad, sosok sentral di balik pergerakan ini, bukan hanya menjadi koordinator. Ia adalah penggerak. Seorang penjaga bara api di balik keringat dan suara serak komunitas musik keras. Dalam obrolannya di sela-sela acara, ia menegaskan bahwa JGMO bukan hanya tentang musik. Ini adalah panggung ekspresi, ruang aman, serta sarana edukasi bagi generasi muda.
“Meski musiknya keras, tiap acara selalu berjalan kondusif dan tertib,” ujarnya. Kalimat itu bukan basa-basi. Dalam sejarah panjangnya, JGMO kerap mengangkat isu-isu sosial yang penting namun jarang disentuh.
Pada JGMO #5 tahun 2022, misalnya, mereka menggandeng Generasi Anti Narkoba Nasional untuk mengkampanyekan gerakan anti-narkoba. Sebuah bukti bahwa anak-anak underground tak hanya bisa mengguncang panggung, tapi juga menyentuh nurani.

Namun di balik kegigihan itu, ada kegelisahan yang terus membayang: minimnya dukungan dari pihak berwenang. Masalah klasik seperti perizinan dan tempat penyelenggaraan masih menjadi batu sandungan.
“Padahal, ketika event ini digelar, ekonomi kreatif berjalan. Pedagang kecil, penjual makanan, hingga pelaku usaha merchandise lokal semua merasakan dampaknya,” tutur Om Bad. Harapannya sederhana: agar para pemangku kebijakan melihat ini bukan sebagai ancaman, tapi sebagai potensi besar bagi perkembangan kreativitas anak muda.
Di tengah dunia yang makin bising oleh distraksi, Jombang Ground Move On hadir sebagai suara nyaring dari bawah tanah. Suara yang tidak meminta belas kasih, tapi pengakuan. Karena di balik suara keras dan penampilan sangar itu, tersimpan cita—cinta pada musik dan ruang berekspresi. [suf]






