Bondowoso (beritajatim.com) – Kerap turunnya hujan saat musim kemarau di Kabupaten Bondowoso berpengaruh pada pertanian tembakau. Musim kemarau basah membuat petani setempat merugi.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Bondowoso, Yasid mengatakan, kemarau basah menurunkan kualitas tembakau yang dihasilkan.
“Di wilayah pegunungan, petani menanam tembakau sejak April. Jadi di bulan Juli ini sudah panen dan masuk tahap penjemuran,” kata Yasid pada BeritaJatim.com, Sabtu (5/7/2025).
Saat penjemuran, diperlukan terik sinar matahari dari pagi hingga sore. Namun saat ini, siang hari hujan sudah mulai turun.
“Ini membuat kualitas tembakau tidak bagus. Meskipun, areal yang panen masih 20 persen dari total sekitar 8 ribu hektar se Bondowoso,” sebutnya.
Untuk tembakau rajangan, biaya pokok produksi (BPP) mencapai Rp 40 ribu per kilogram. Tetapi saat ini untuk daun bawah harganya masih Rp 20 ribu – Rp 25 ribu per kilogram.
“Jadi petani yang panen awal di bulan ini jual rugi. Tahun sebelumnya, harga jual rajangan antara Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu per kilogram,” bebernya.
Selain dari sisi kualitas, petani tembakau juga dibuat pusing dengan menurunnya kuantitas akibat rendahnya rendemen.
“Di kala cuaca normal, setiap hektar bisa mendapatkan 1,2 sampai 1,5 ton tembakau kering. Saat ini, rata rata 900 kilogram sampai 1 ton saja per hektar,” tutur Yasid.
Sekretaris APTI Jawa Timur ini juga menyebut bahwa kondisi ini tidak hanya terjadi di Bondowoso saja, melainkan juga daerah lain.
“Kami berharap anomali cuaca ini tidak berkepanjangan. Jadi saat nanti di puncak masa panen atau di waktu buka gudang, cuaca kembali normal seperti sedia kala,” ucapnya. (awi/kun)






