Surabaya (beritajatim.com) – Tragedi tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya di perairan Banyuwangi yang menelan lima korban jiwa memantik kritik tajam dari Komisi D DPRD Jawa Timur. Insiden nahas ini diduga kuat terjadi akibat lemahnya pengawasan keselamatan pelayaran, termasuk indikasi kelebihan kapasitas penumpang dan buruknya kondisi kapal.
Ketua Komisi D DPRD Jatim, Abdul Halim, menegaskan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, pemerintah kabupaten/kota, hingga pemerintah pusat untuk mengevaluasi menyeluruh standar keselamatan moda transportasi laut. Ia mengingatkan keselamatan penumpang harus menjadi prioritas utama.
“Tentu ini menjadi duka mendalam bagi kita semua. Jangan sampai, demi efisiensi biaya operasional, aspek-aspek krusial seperti keselamatan justru terabaikan,” tegas Halim, Kamis (3/7/2025).
Politisi asal Partai Gerindra yang juga putra daerah Madura tersebut menekankan perlunya revitalisasi armada penyeberangan di Jawa Timur. Ia meminta kapal-kapal tua yang tak lagi memenuhi standar agar segera dipensiunkan guna mencegah kecelakaan serupa terulang.
“Sudah saatnya kita meninjau kembali usia kelayakan kapal. Kapal yang sudah tidak memenuhi standar, sebaiknya tidak dioperasikan lagi. Keselamatan adalah kunci utama dalam layanan transportasi,” ujar Halim.
Komisi D DPRD Jatim menilai lemahnya kepatuhan operator kapal terhadap aturan keselamatan menjadi salah satu pemicu utama kecelakaan ini. Mereka juga menyoroti minimnya pengawasan yang dilakukan pemerintah terhadap armada penyeberangan, terutama yang dikelola PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP).
“Menjadi pelajaran dan perhatian. Dan harus ada perbaikan layanan transportasi laut semakin lebih baik,” sambung Halim.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Komisi D, kecelakaan KMP Tunu Pratama Jaya dipicu oleh kebocoran mesin yang menyebabkan kapal tak bisa dikendalikan dan akhirnya terombang-ambing oleh ombak tinggi serta arus deras.
“Kalau informasi didapat kondisi kapal kelihatan kotor dan hampir tidak terawat. Faktanya ada kejadian dan kebocoran mesin,” ungkap Halim.
Data terakhir mencatat, KMP Tunu Pratama Jaya membawa total 65 orang yang terdiri dari 12 Anak Buah Kapal (ABK) dan 53 penumpang. Hingga saat ini tim gabungan telah menemukan 36 orang, dengan rincian 31 selamat dan lima lainnya meninggal dunia. Proses pencarian korban lain terus dilakukan.
Komisi D DPRD Jatim menegaskan musibah ini harus menjadi momentum untuk memperkuat pengawasan dan penegakan standar keselamatan pelayaran. Mereka juga mendorong percepatan peremajaan armada demi menjaga keselamatan penumpang di masa depan. [asg/beq]






