Banyuwangi (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dindik Jatim) mengambil langkah cepat menyikapi persoalan teknis dalam proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMAN 1 Giri Banyuwangi.
Setidaknya ada 120 calon siswa terdampak sistem bermasalah saat daftar ulang jalur pemenuhan kuota pagu pada Senin (1/7/2025) lalu, hingga gagal diterima meski sebelumnya dinyatakan lolos.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai menyatakan pihaknya telah menurunkan tim teknis dan Sekretaris Dindik Jatim langsung ke lokasi untuk menangani kasus tersebut.
“Kami sudah turunkan tim untuk menyelesaikan persoalan ini. Karena memang terkendala pada sistem yang trobel dan tentu ini merugikan anak-anak kita,” ujarnya, Kamis (2/7/2025).
Sebagai respon konkret, Dindik Jatim bersama sekolah menawarkan dua solusi alternatif bagi 120 siswa yang terdampak. Pertama, melanjutkan ke SMA Negeri lain di Banyuwangi yang masih memiliki kuota kosong.
Kedua, mendaftar ke sekolah swasta mitra Pemprov Jatim yang telah bekerja sama menyediakan beasiswa penuh atau biaya terjangkau.
Selain itu, Aries menegaskan, PIN calon siswa yang terdampak sistem juga tetap bisa digunakan pada SPMB Tahap IV jalur nilai prestasi akademik untuk SMK.
Permasalahan bermula ketika para calon siswa datang ke SMAN 1 Giri dengan membawa bukti diterima jalur domisili, bukan pemenuhan kuota seperti seharusnya. Saat proses daftar ulang, data mereka tidak muncul dalam sistem rekap pemenuhan kuota SPMB, sehingga sekolah menolak pendaftaran mereka.
Menurut Aries, semua seleksi jalur pemenuhan kuota dilakukan otomatis oleh sistem. “Tidak semua sekolah membuka jalur pemenuhan kuota, hanya yang masih memiliki sisa kuota dari tahapan sebelumnya,” jelasnya.
Ia mencontohkan, bila di tahap 3 kuota suatu sekolah 30 murid dan hanya 29 yang daftar ulang, ditambah sisa kuota tahap 1 dan 2 sebanyak 10, maka akan ada 11 kursi untuk diisi peserta urutan berikutnya berdasarkan peringkat jalur domisili.
Diberitakan sebelumnya, Elizabeth Wulandari, orang tua calon siswa yang sempat dinyatakan lolos di SMAN 1 Giri, merasa dipermainkan oleh sistem. Ia menerima pemberitahuan bahwa putrinya diterima pada Selasa pagi pukul 07.30 WIB, namun ditolak saat tiba di sekolah.
“Saya mendapatkan keterangan diterima lewat jalur pagu, anak saya masuk urutan nomor 7,” kata Elizabeth.
Namun, sesampainya di gerbang sekolah, ia justru diarahkan pulang oleh satpam karena datanya dianggap tidak valid. “Saya langsung disuruh pergi. Satpam bilang anak saya tidak diterima karena pemberitahuan dari sistem yang error,” ungkapnya.
Elizabeth mengaku kecewa karena sudah dua kali menjalani proses pendaftaran daring sebelumnya dan tidak pernah mengalami masalah serupa.
Kemarin, Rabu (2/7/2025), Dindik Jatim dipimpin Sekretaris Dindik Jatim Suhartono, bersama Kacabdin Banyuwangi, Kepala SMAN 1 Giri, tim teknis SPMB Jatim, serta perwakilan wali murid telah menggelar pertemuan penyelesaian masalah. Dindik Jatim telah memberikan solusi alternatif untuk para calon murid. [ipl/beq]






