Bondowoso (beritajatim.com) – Bencana banjir dan tanah longsor melanda Desa Jampit, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, pada Minggu dini hari, 29 Juni 2025. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 01.00 WIB ini dipicu oleh luapan air dari sumber mata air Gunung Gempit, menyebabkan kerusakan serius terhadap infrastruktur dan lahan pertanian milik warga dan perkebunan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bondowoso, Sigit Purnomo, mengonfirmasi bahwa jaringan air bersih sepanjang 500 meter yang menggunakan pipa berukuran 3 inci mengalami kerusakan total akibat terjangan air.
“Saluran utama air bersih yang digunakan warga dan perkebunan rusak parah. Ini berdampak langsung pada kebutuhan dasar masyarakat,” jelas Sigit.
Tak hanya merusak jaringan air bersih, banjir juga menyebabkan kerusakan pada lahan pertanian seluas tiga hektare yang ditanami komoditas utama seperti kentang dan tomat. Lahan ini merupakan bagian dari Perkebunan milik PTP yang berada di lereng Gunung Gempit.
“Lumpur dan luapan air membanjiri lahan pertanian di lereng Gunung Gempit. Ini berpotensi menurunkan produksi dan memengaruhi penghidupan petani di wilayah tersebut,” tambahnya.
Selain itu, tiga titik longsor teridentifikasi di kawasan Gunung Gempit. Longsor ini berpotensi mengancam akses jalan dan meningkatkan risiko bencana lanjutan. Meski demikian, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam peristiwa ini.
Wilayah terdampak mencakup Dusun Jampit dan Dusun Krepekan, dengan total 421 Kepala Keluarga yang terkena dampak langsung. Di sejumlah titik, air masih menggenang hingga setinggi 20 cm, memperparah kondisi pemukiman dan akses warga.
Merespons kondisi darurat ini, BPBD Bondowoso telah mengerahkan tim gabungan yang terdiri dari Pusdalops, TRC, dan Agen Informasi Bencana. Mereka melakukan asesmen cepat serta mendistribusikan bantuan logistik dasar ke lokasi terdampak. Warga juga secara swadaya membangun tanggul darurat untuk menahan limpahan air susulan.
“Prioritas kami sekarang adalah perbaikan jaringan air bersih dan pembersihan material longsor. Kami juga tengah mempersiapkan pengerukan sungai sebagai antisipasi lanjutan,” ungkap Sigit.
BPBD turut meminta bantuan tambahan berupa pasokan air bersih dan pemulihan akses listrik yang ikut terdampak akibat bencana tersebut. Hingga saat ini, kerugian material masih dalam proses pendataan, namun pemerintah daerah telah menetapkan peristiwa ini sebagai perhatian serius, mengingat wilayah Ijen merupakan salah satu sentra produksi hortikultura dan sumber air vital bagi kawasan sekitarnya. [awi/suf]






