Bojonegoro (beritajatim.com) – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan akan mengunjungi Kabupaten Bojonegoro hari ini, Kamis (26/6/2025). Kunjungannya tersebut untuk meresmikan peningkatan produksi minyak di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, yang dioperatori oleh ExxonMobil Cepu Limited.
Kunjungan ini menjadi sorotan, mengingat ada sejarah panjang batalnya kunjungan para presiden RI sebelumnya ke wilayah penghasil minyak terbesar di Indonesia tersebut.
Sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga Joko Widodo (Jokowi), rencana kunjungan kepala negara ke Bojonegoro selalu berujung pembatalan. Padahal, beberapa agenda nasional telah disiapkan secara matang, mulai dari peresmian proyek migas hingga peluncuran program strategis nasional. Namun, pada akhirnya, yang datang justru hanya pejabat kementerian atau perwakilan lembaga negara.
Pembatalan demi pembatalan tersebut kemudian memunculkan berbagai spekulasi dan mitos di tengah masyarakat Bojonegoro. Salah satu mitos yang berkembang adalah bahwa
“Bojonegoro tidak bisa dikunjungi oleh Presiden RI.”
Pengamat Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro, memberikan komentar mengenai asal muasal mitos mengenai jabatan presiden yang akan lengser apabila bertandang ke Bojonegoro. Keyakinan ini, kata Purnawan berawal dari cerita rakyat Bojonegoro pada masa-masa peperangan kerajaan.
Pada waktu itu masyarakat percaya bahwa ada kutukan yang berbunyi “Barang siapa yang lebih dulu menyeberangi Sungai Bengawan Solo, maka kerajaannya akan kalah perang.” Kutukan ini terbukti dalam kisah peperangan hebat di bengawan Solo yang menewaskan Arya Penangsang alias Aryo Jipang, penguasa Kadipaten Jipang.
Dalam cerita buku Babad Tanah Jawi yang disusun oleh W.L. Olthof di Leiden, Belanda pada 1941, Arya Penangsang tewas bersama kudanya si Garak Rimang. Ia tewas usai dikeroyok prajurit Sultan Pajang, Sultan Hadiwijaya alias Maskarebet atau Jaka Tingkir.
Apakah kutukan tersebut yang membuat Presiden RI yang akan ke Bojonegoro selalu batal. Presiden Joko Widodo, misalnya, beberapa kali dijadwalkan hadir dalam agenda di Bojonegoro, termasuk peresmian proyek strategis nasional Lapangan Unitisasi Gas Jambaran Tiung-Biru, namun selalu batal. Begitu pula dengan Presiden SBY yang pada masa pemerintahannya juga pernah diagendakan datang, tetapi urung terjadi.
Kedatangan Presiden Prabowo Subianto ke Bojonegoro, jika benar-benar terealisasi, diperkirakan akan menjadi kunjungan bersejarah dan mematahkan mitos yang selama ini dipercayai sebagian warga.
Untuk menyambut kedatangan Presiden Prabowo Subianto, sebelumnya Komando Resor Militer (Korem) 082 Citra Panca Yudha Jaya dan Komando Distrik Militer (Kodim) 0813 Bojonegoro melaksanakan Apel Gelar Pasukan dalam rangka pengamanan kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Bojonegoro yang dijadwalkan Kamis (26/6/2025). Apel Gelar Pasukan dilaksanakan di Lapangan Sepak Bola Desa Gayam Kecamatan Gayam, Rabu (25/6/2025).
Komandan Korem (Danrem) 082/CPYJ Kolonel Inf Batara Alex Bulo bertindak menjadi pimpinan apel dan didampingi Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, Dandim 0813 Bojonegoro, Dandim 0812 Lamongan, Wakapolres dan tamu kehormatan lainnya.
Dalam amanatnya, Danrem Kolonel Inf Batara Alex Bulo berpesan agar para pasukan bertanggung jawab pada tugas masing-masing. “Mari kita bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab dan jangan lupa segala sesuatu diawali dengan doa. Tolong dilaksanakan dengan baik, dan sesuaikan dengan ketentuan,” ujarnya.
Apel diawali dengan pemeriksaan pasukan oleh Danrem. Pasukan terdiri dari Kodim 0813 Bojonegoro, Yonif 500/Raider, Yonif 516, Yonif 521, Yonzipur 5/abw, Brimob Polda Jatim, Polres Bojonegoro, Tim Intel, Dishub Bojonegoro, Damkar Bojonegoro, Satpol-PP Bojonegoro, Dinkes Bojonegoro, Telkom dan PLN.
Usai apel dilanjutkan gladi pendaratan helikopter di lapangan sepak bola Desa Gayam. Sementara itu, rombongan juga meninjau lokasi peresmian di ExxonMobil Cepu Limited – Lapangan Banyu Urip.
Lapangan Banyu Urip sendiri merupakan salah satu sumber produksi minyak utama nasional, dengan kontribusi besar terhadap ketahanan energi Indonesia. Kunjungan Presiden ke lokasi ini diyakini bukan hanya sebagai bentuk dukungan terhadap sektor energi, tetapi juga simbol kehadiran negara di wilayah yang selama ini jarang tersentuh langsung oleh pemimpin tertinggi.
Kini, masyarakat Bojonegoro menanti: Akankah Presiden Prabowo menjadi presiden pertama yang benar-benar datang ke Bojonegoro? Atau akankah sejarah kembali terulang? [lus/aje]






