Surabaya (beritajatim.com) – Dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya bersama Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya menggelar sarasehan dan doa bersama di dua lokasi bersejarah, yakni Rumah Kelahiran Bung Karno di Peneleh dan Rumah HOS Tjokroaminoto.
Kegiatan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan hidup dan perjuangan Sang Proklamator sekaligus untuk meneguhkan semangat nasionalisme di kalangan sivitas akademika. Selain sebagai Presiden Pertama Republik Indonesia, Bung Karno juga dikenal sebagai penggagas utama berdirinya Untag Surabaya.
Rektor Untag Surabaya, Prof. Mulyanto Nugroho menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan momen penting dalam memperkuat identitas Kampus Merah Putih. Ia mengajak seluruh elemen kampus untuk meneladani semangat perjuangan Bung Karno yang penuh keberanian dan dedikasi terhadap bangsa.
“Untag Surabaya lahir dari gagasan Bung Karno. Melalui kegiatan ini, kita ingin menumbuhkan semangat patriotisme yang menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Generasi muda harus mewarisi semangat inovasi dan pengorbanan Bung Karno demi Indonesia,” ujarnya, Rabu (25/6/2025).
Prof. Nugroho juga menyampaikan bahwa sepanjang Juni 2025, YPTA Surabaya menggelar berbagai kegiatan dalam rangka Bulan Bung Karno. Di antaranya adalah lomba peragaan busana dan reka peristiwa Soekarno-Fatmawati, lomba baca puisi, serta lomba lainnya yang bertujuan menanamkan nilai-nilai perjuangan sang proklamator di kalangan generasi muda.
Sementara itu, Ketua YPTA Surabaya, J. Subekti dalam sarasehan tersebut memaparkan kisah perjuangan Bung Karno sejak muda hingga akhir hayatnya. Ia menyoroti bagaimana Bung Karno menjalani masa-masa sulit, termasuk pengasingan di Ende dan Bengkulu, serta pemenjaraan oleh pemerintah kolonial.
“Bung Karno bukan hanya memproklamasikan kemerdekaan, tetapi juga menanggung pengasingan, fitnah, dan tekanan hebat demi bangsanya. Semangat juangnya ditempa sejak dari Surabaya bersama HOS Tjokroaminoto,” ungkapnya.
J. Subekti juga menyinggung ironi sejarah yang menyelimuti akhir hayat Bung Karno. Meskipun lahir di Surabaya dan pernah menyampaikan keinginan dimakamkan dekat Istana Bogor, Bung Karno justru dimakamkan di Blitar karena keputusan politik saat itu.
“Sejarah mencatat, bahkan jenazah Bung Karno sempat tidak dirawat sebagaimana mestinya dan dipindahkan dengan alas karpet lusuh sebelum akhirnya dimakamkan secara Islam di Blitar. Ini adalah ironi sejarah yang patut kita renungkan,” tandasnya.
Kegiatan sarasehan ini menjadi salah satu wujud konkret komitmen Untag Surabaya dalam melestarikan nilai-nilai kebangsaan dan meneruskan cita-cita perjuangan Bung Karno di ranah pendidikan tinggi. [ipl/kun]






