Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair) menghadirkan ide SmartOutfit, sistem pakaian pintar berbasis Internet of Things (IoT), yang sukses meraih penghargaan Best Design dalam lomba business plan KOMIKA 2025 di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo.
SmartOutfit dirancang sebagai solusi atas gaya hidup sedentari masyarakat Indonesia. Produk ini dilengkapi sensor yang terhubung ke aplikasi untuk memantau kondisi tubuh secara real-time, serta memberikan pengingat otomatis untuk peregangan, hidrasi, hingga istirahat.
Anggota Tim OK yang terdiri dari mahasiswa FEB Unair, Fatimah Azzahra Sakinah Assagung mengatakan bahwa inovasi ini menghadirkan fitur edukasi gaya hidup sehat, kalkulator kalori, hingga rekap kesehatan bulanan bagi pengguna.
Ia mengungkapkan, bahwa sekitar 26,27 persen penduduk Indonesia mengalami keluhan kesehatan. Bahkan, masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan waktu duduk hingga 8,3 jam per hari.
“Kami melihat tingginya angka keluhan kesehatan akibat kurang gerak. SmartOutfit hadir sebagai solusi inovatif untuk mendukung gaya hidup sehat masyarakat Indonesia,” ujar Fatimah, Selasa (24/6/2025).
Pakaian pintar ini juga menggunakan material Phase Change Material (PCM) yang dapat menyesuaikan suhu tubuh secara otomatis, sehingga memberikan kenyamanan sekaligus dukungan kesehatan bagi penggunanya. Integrasi antara desain pakaian dan fitur aplikasi menjadi keunggulan utama produk ini dalam penilaian kompetisi.
Dalam kompetisi KOMIKA bertema “Fostering Innovation, Driving Growth, and Building the Future of Business Through Creative and Strategic Planning”, Tim OK berhasil mencuri perhatian dewan juri berkat desain visual produk dan kejelasan penyampaian konsep.
“Desain kami tidak hanya menarik secara estetika, tapi juga informatif dan realistis dalam pengaplikasian,” tambah Fatimah.
Tim OK terdiri dari tiga mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam, yaitu Desty Ika Anggraini, Lintang Ayu Rengganis Permata A, dan Fatimah Azzahra Sakinah Assagung. Mereka mengaku melakukan persiapan lomba secara mandiri, termasuk melalui riset pasar dan penyebaran kuesioner untuk mengukur kebutuhan konsumen terhadap produk yang dikembangkan.
Selain itu, dukungan pembinaan dari program Kejar BP oleh ACSES dan Al-Fatih oleh HIMA EKIS turut memperkuat pemahaman mereka dalam menyusun proposal dan Business Model Canvas (BMC) yang solid.
“Kejelasan visual dan penyampaian konsep yang tepat menjadi nilai tambah yang membedakan tim ini dari peserta lainnya,” tutur Fatimah.
Kompetisi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi inovasi, riset, dan kemampuan visualisasi ide dapat menjadi senjata ampuh dalam memenangkan persaingan di tingkat nasional. [ipl/aje]






