Surabaya (beritajatim.com) –Menjelang pergantian tahun dalam kalender Islam, masyarakat Indonesia sering mendengar dua istilah yang muncul bersamaan: 1 Muharram dan 1 Suro.
Meski keduanya merujuk pada tanggal yang sama, ternyata terdapat perbedaan penting dalam makna dan tradisinya.
Secara penanggalan, 1 Muharram dan 1 Suro sebenarnya jatuh pada hari yang sama, karena kalender Jawa Islam juga mengikuti sistem penanggalan Hijriah. Namun, secara kultural dan maknanya, keduanya membawa nuansa yang sangat berbeda.
1 Muharram: Tahun Baru Islam yang Penuh Keutamaan
Dalam Islam, 1 Muharram menandai awal tahun baru Hijriah. Bulan ini merupakan salah satu dari empat bulan suci dalam Islam selain Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Umat Islam meyakini bahwa di bulan ini, segala bentuk amal baik akan mendapatkan ganjaran yang besar, begitu pula sebaliknya.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 36:
“Sungguh bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya terdapat empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu.”
Bulan Muharram juga dikenal sebagai bulan hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M, yang menjadi awal penetapan kalender Hijriah. Kata “Muharram” sendiri berasal dari akar kata yang berarti “diharamkan”, karena pada bulan ini umat Islam dilarang melakukan peperangan.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan ini, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, seperti puasa sunnah Asyura (10 Muharram), Tasu’a (9 Muharram), dan 11 Muharram, serta memperbanyak doa, dzikir, dan kegiatan sosial seperti sedekah dan berbagi makanan.
1 Suro: Tradisi Jawa yang Sarat Makna Mistis dan Filosofis
Berbeda dari Muharram yang bernuansa religius, 1 Suro lebih dikenal sebagai bagian dari tradisi budaya masyarakat Jawa. Kata “Suro” sendiri merupakan bentuk adaptasi dari istilah Arab “Asyura”. Namun dalam penerapannya, malam 1 Suro diwarnai oleh berbagai ritual budaya dan kepercayaan spiritual.
Asal usul tradisi 1 Suro bermula dari masa pemerintahan Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam di abad ke-17. Sultan Agung menggabungkan sistem kalender Islam (Hijriah) dengan kalender Saka Hindu agar masyarakat Jawa yang memeluk Islam maupun masih memegang kepercayaan lokal dapat hidup harmonis.
Di kalangan masyarakat Jawa, malam 1 Suro dipercaya sebagai malam yang memiliki kekuatan gaib atau energi spiritual yang kuat. Oleh karena itu, banyak orang menghindari aktivitas di luar rumah, dan lebih memilih melakukan ritual tirakat atau perenungan.
Tradisi yang masih dilestarikan hingga kini antara lain kirab pusaka, tapa bisu, pembersihan benda-benda keramat, ziarah ke makam leluhur, slametan, lek lekan (tidak tidur semalam suntuk), hingga tuguran dan sedekah bumi.
Dua Tradisi yang Berjalan Berdampingan
Meski berbeda dalam segi makna dan bentuk perayaan, 1 Muharram dan 1 Suro tetap menjadi momen refleksi dan spiritualitas yang kuat bagi masyarakat Indonesia. Di berbagai daerah, keduanya bahkan sering dirayakan secara berdampingan.
Jika umat Islam memperingati 1 Muharram dengan kegiatan keagamaan seperti pengajian, pawai obor, sholawatan, serta amal sosial, masyarakat Jawa tetap memegang teguh tradisi leluhur mereka dalam menyambut 1 Suro.
Perbedaan ini justru menunjukkan kekayaan budaya Indonesia, yang mampu memadukan unsur keagamaan dan tradisi lokal dalam satu waktu yang sakral.(mnd/ted)






