Jombang (beritajatim.com) – Di sebuah dusun sunyi di Jombang, Jawa Timur, hidup seorang ibu yang selama bertahun-tahun menyulam harapan di antara dinding bambu yang rapuh. Tirai robek jadi pemisah ruang satu-satunya yang ada.
Malam baginya bukan waktu untuk istirahat, melainkan berjaga dari dingin, rembesan air hujan, dan rasa takut melihat rumah reyot itu benar-benar runtuh.
Namanya Poniti. Ibu dua anak ini tinggal di Dusun Semanding, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto. Hidupnya mungkin tak tercatat dalam banyak dokumen negara, karena tak satu pun bantuan sosial pernah singgah ke rumahnya.
Tidak PKH. Tidak BPNT. Tidak pula bantuan rumah tak layak huni. Yang ia punya hanyalah doa panjang dan sepotong harapan yang nyaris punah. “Saya cuma ingin rumah ini diperbaiki. Biar anak-anak bisa tidur tenang, tidak kehujanan,” lirihnya, saat ditemui beberapa waktu lalu.
Ketika hujan turun, lantai tanah becek dan lembab. Kasur tipis itu tak lagi mampu menahan dingin. Tapi Poniti terus bertahan. Karena di balik segala keterbatasan itu, ada dua pasang mata kecil yang menggantungkan hidup padanya.
Api dan Air Mata di Mojowarno
Kisah getir lain datang dari dusun berbeda. Seorang nenek berusia 85 tahun, Saudah, harus menyaksikan rumah kayunya habis dilalap api. Siang itu, Rabu 18 Juni 2025, tungku tradisional yang belum padam jadi awal musibah besar di Dusun Jetak, Desa Sidokerto, Kecamatan Mojowarno.
Beruntung tidak ada korban jiwa. Tapi rumah yang menjadi tempat nenek renta itu berlindung kini hanya tinggal arang dan puing-puing. Dalam hitungan jam, satu-satunya harta yang ia miliki sirna.
Namun, di tengah kepiluan itu, harapan datang dari arah yang tak diduga. H. Warsubi, Bupati Jombang—yang kerap disapa Abah Bupati—turun langsung ke dua lokasi tersebut. Tanpa seremoni, tanpa banyak kata-kata.
Ia datang membawa bantuan, dan lebih dari itu, membawa bukti bahwa negara tidak tuli. “Kami tidak ingin ada warga yang tinggal dalam kondisi membahayakan keselamatan. Ini soal kemanusiaan,” tegas Abah Bupati saat meninjau langsung rumah Poniti, Kamis (19/6/2025).
Tangan keriput Poniti gemetar saat menerima uluran tangan itu. Matanya basah, dadanya sesak oleh rasa syukur yang tak bisa diungkapkan.
“Terima kasih, Abah Bupati. Saya enggak percaya didatangi langsung. Terima kasih sudah peduli sama orang kecil seperti kami,” ucapnya sambil terisak.
Kepala Dusun Semanding, Mulyadi, menyambut langkah ini sebagai angin baru. “Kami sudah lama mengusulkan, tapi baru sekarang ada jawaban nyata. Ini harapan baru bagi Bu Poniti dan anak-anaknya.”
Begitu pula yang terjadi di Mojowarno. BPBD dan Dinsos sigap menurunkan bantuan, mendata kebutuhan, dan memastikan Nenek Saudah tidak sendiri menghadapi musibah.
Lebih dari Bantuan, Ini Soal Hati
Langkah cepat pemerintah menuai apresiasi. Tapi kisah ini lebih dari sekadar pemberian bantuan material. Ini tentang kehadiran. Tentang empati yang benar-benar terasa. Tentang negara yang tidak hanya hadir saat pesta peresmian, tetapi juga saat rakyatnya menangis dalam sepi.
Kisah Poniti dan Saudah adalah dua dari ribuan cerita yang jarang mendapat ruang di televisi atau rapat-rapat dinas. Tapi justru dari merekalah kita belajar makna kemanusiaan. Bahwa keadilan sosial bukan hanya semboyan, melainkan tindakan nyata. [suf]






