Malang (beritajatim.com) – Politeknik Negeri Malang (Polinema) menegaskan komitmennya untuk membangun kemandirian dan meraih keunggulan di kancah global melalui transformasi pendidikan vokasi.
Hal ini disampaikan dalam acara puncak Dies Natalis ke-43 yang digelar pada Rabu (18/6/2025) malam di Graha Polinema, Malang, dengan tema “Transformasi Polinema Membangun Kemandirian Meraih Keunggulan”.
Direktur Polinema, Supriatna Adhisuwignjo, S.T., M.T., dalam sambutannya menyampaikan refleksi perjalanan Polinema serta pemetaan tantangan masa depan. Ia menekankan bahwa peringatan Dies Natalis bukan sekadar selebrasi, melainkan momentum evaluasi dan perencanaan strategis.
“Saat kita berulang tahun, saatnya kita melihat kembali capaian-capaian yang sudah kita raih. Alhamdulillah, beberapa hari lalu kita mendapatkan akreditasi unggul dan penghargaan dari LEPRID,” ujar Supriatna.
Namun, di balik capaian tersebut, Supriatna menegaskan pentingnya kesiapan Polinema dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks di masa depan. Untuk itu, institusinya telah menyusun dokumen Rencana Induk Pengembangan Polinema 2025–2045 sebagai roadmap transformasi.

Polinema memetakan enam fase strategis yang akan dilalui hingga 2045: 2010–2014: Penguatan kapasitas internal. 2015–2019: Penguatan daya saing regional. 2020–2024: Perguruan tinggi dengan daya saing nasional.
2025–2029: Pengembangan daya saing global. 2030–2034: Menuju politeknik berdaya saing global. 2035–2039: Perwujudan politeknik mandiri dan bereputasi. 2040–2045: Transformasi menjadi universitas terapan mapan dan bereputasi internasional.
“Untuk mencapai visi 2045, kita perlu melakukan transformasi menyeluruh, baik kelembagaan, organisasi, maupun tri dharma perguruan tinggi. Ini harus dilakukan secara bertahap dan konsisten,” jelas Supriatna.
Sebagai bentuk sinergi antara budaya lokal dan inovasi digital, acara puncak Dies Natalis ke-43 juga menampilkan pertunjukan wayang beber yang dikemas dengan teknologi digital. Ini menjadi simbol dari upaya Polinema menggabungkan nilai-nilai budaya dengan era teknologi informasi.
“Kita mencoba mempertemukan dua sisi: budaya lokal dan teknologi digital. Melalui pertunjukan wayang yang dikolaborasikan dengan multimedia, nilai-nilai pendidikan dan karakter tetap bisa tersampaikan dengan cara yang relevan dan diterima oleh generasi saat ini,” ujar Supriatna.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pendekatan ini juga memiliki efisiensi biaya (low cost) namun tetap sarat makna dan daya tarik bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda yang akrab dengan teknologi.
Acara ini menjadi penutup rangkaian Dies Natalis ke-43 Polinema yang telah berlangsung selama beberapa pekan. Supriatna menyebut, momentum ini bukanlah akhir, melainkan awal dari langkah-langkah besar Polinema dalam menciptakan lembaga vokasi yang tidak hanya unggul di level nasional, tetapi juga kompetitif di level internasional.
“Harapan kami, Polinema akan terus menjadi pionir pendidikan vokasi yang adaptif terhadap zaman, berakar pada budaya, namun tetap maju mengikuti perkembangan teknologi dan globalisasi,” pungkasnya. (dan/ian)






