Sampang (beritajatim.com) – Musim kemarau yang tak normal karena masih terjadi hujan menimbulkan duka mendalam bagi petani tembakau di Kabupaten Sampang, Madura. Hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa minggu terakhir menyebabkan banyak lahan tembakau rusak, bahkan sebagian tanaman membusuk dan terpaksa dibuang sebelum dipanen.
Petani asal Desa Rabasan, Kecamatan Camplong, hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan pahit tersebut. Karim, salah satu petani tembakau, mengaku sudah mengeluarkan biaya cukup besar untuk musim tanam tahun ini, namun semuanya terancam sia-sia akibat cuaca tak menentu.
“Jika hujan masih terjadi maka tembakaunya jadi busuk. Sulit untuk berkembang dan tumbuh normal,” ungkap Karim, Rabu (18/6/2025).
Menurutnya, hujan yang terus mengguyur sejak awal bulan telah menghancurkan harapan banyak petani. Mereka semula berharap musim kemarau akan datang tepat waktu agar tanaman tembakau bisa tumbuh optimal. Namun, justru curah hujan tinggi membuat tembakau gagal tumbuh dan membusuk di lahan.
Kondisi serupa juga dialami petani di sejumlah desa lain di wilayah Plampaan. Mereka mengalami kerugian besar karena sebagian tanaman tidak bisa diselamatkan.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, Candra Romadani Amin, menyatakan bahwa secara kalender musim dari BMKG, sejak April seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Namun, fenomena atmosfer menyebabkan situasi berubah.
“Memang saat ini masuk kemarau, tapi karena ketidakstabilan atmosfer, hujan masih turun di beberapa wilayah. Prediksi kemarau lebih mundur di tahun ini,” terang Candra.
Ia menambahkan, BPBD terus melakukan pemantauan terhadap dinamika cuaca di wilayah Sampang agar masyarakat, terutama petani, bisa lebih siap menghadapi dampak anomali iklim yang terjadi. [sar/beq]






