Malang (beritajatim.com) – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah lanskap teknologi dan industri, tetapi juga menggugah perbincangan baru di dunia sastra dan pendidikan. Topik ini menjadi sorotan dalam diskusi bertajuk Learning Lit in the AI Age: Classroom, Career yang digelar Program Studi English for Global and Creative Communication Universitas Ma Chung, Jumat (13/6/2025), di Theater Room Bhakti Persada.
Dalam acara ini, Muhammad Afnani Alifian, S.Pd., M.Pd., jurnalis beritajatim.com yang juga seorang pengajar dan penulis aktif, tampil sebagai narasumber utama. Dani—sapaan akrabnya—saat ini sedang menempuh studi doktoral di bidang Pendidikan dan Sastra Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Malang.
Ketua Program Studi Bahasa Inggris Universitas Ma Chung, Dr. FX Dono Sunardi, SS., MA., dalam sambutannya menekankan pentingnya memahami dan memanfaatkan teknologi AI secara bijak dalam proses pembelajaran.
“Hari ini kita belajar lebih dekat dengan AI, tools yang dapat digunakan. Tapi di sisi lain juga belajar betapa bahayanya AI, makanya perlu digunakan secara bijak,” ujar Dono.
Menurutnya, sastra tetap relevan di tengah perkembangan AI karena memiliki kekuatan naratif yang tak tergantikan. “Apakah sastra ini akan punah di era kecerdasan buatan yang gegap gempita? Atau justru bertahan karena daya tarik ceritanya? Hari ini, kita belajar dari Mas Dani, seorang praktisi yang dekat dengan kita dan bisa menyarikan ilmu tentang hubungan antara sastra dan AI,” lanjutnya.
Dalam pemaparannya, Dani mengajak mahasiswa melihat AI sebagai entitas dengan dua wajah: utopia dan distopia. Ia mengutip pemikiran futuristik Nick Bostrom dalam buku Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies (2014), yang memperingatkan potensi pembangkangan AI terhadap manusia jika tidak dikendalikan.
“Di dalam jalur menuju superintelligence, akan terjadi berbagai bentuk pembangkangan. Bila manusia tidak berhati-hati, AI akan merebut kekuasaan untuk dirinya sendiri,” ujar Dani mengutip Bostrom.
Dani juga menyoroti pandangan Yuval Noah Harari yang menyatakan bahwa di era AI, pertanyaan menjadi lebih penting daripada jawaban. Menurutnya, hal ini menegaskan urgensi berpikir kritis dan penguatan literasi digital, terutama bagi generasi muda.
Ia mengkritik penggunaan AI yang hanya sebagai alat instan tanpa landasan etis dan filosofis. Karena itu, Dani memperkenalkan prinsip yang ia sebut sebagai Golden Rules dalam berinteraksi dengan teknologi: “Fondasi dulu, alat kemudian.”
“Pilihan ada di tangan kita: menjadi pengendali atau dikendalikan. Ketakutan terhadap AI tidak relevan, yang penting adalah penguasaan terhadapnya,” tegasnya.
Dalam sesi utama, Dani kembali mengingatkan bahwa AI bisa menjadi alat transformasi yang luar biasa sekaligus membawa risiko besar. “Di jalur menuju superintelligence, sangat mungkin terjadi pembangkangan. Bila manusia tak berhati-hati, AI akan merebut otoritas untuk dirinya sendiri,” ujarnya lagi.
Ia mendorong mahasiswa agar tidak menggantungkan seluruh proses belajar pada alat digital semata. “Jangan menggadaikan kebodohan pada alat. Kita harus tetap kritis, kreatif, dan punya pijakan berpikir yang kokoh,” pesannya.
Diskusi yang berlangsung interaktif ini juga membuka wawasan mahasiswa mengenai peluang baru di dunia sastra dan bahasa dalam industri digital. Mulai dari penulisan konten berbasis AI, jurnalisme naratif, pengembangan cerita interaktif, hingga kurasi data dengan pendekatan literer menjadi bahasan yang menggugah semangat eksplorasi para peserta. [beq]






