Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) kian mantap menempatkan diri sebagai kekuatan baru dalam pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia. Melalui AI Center UB, kampus ini menjadi salah satu institusi pendidikan tinggi yang mengoperasikan superkomputer canggih NVIDIA DGX A100.
NVIDIA DGX A100 adalah perangkat kelas dunia yang juga digunakan oleh perusahaan teknologi global seperti OpenAI, Meta, hingga Tesla. Superkomputer NVIDIA DGX A100 merupakan tulang punggung infrastruktur komputasi AI UB.
Perangkat ini dirancang khusus untuk menangani proses pelatihan model AI yang sangat kompleks dan berskala besar, mulai dari machine learning, deep learning, hingga pemrosesan big data dalam waktu super singkat.
“Infrastruktur ini memungkinkan riset yang biasanya memakan waktu berhari-hari diselesaikan hanya dalam hitungan jam bahkan menit,” ujar Rizal Setya Perdana, S.Kom., M.Kom., Ph.D., dosen Fakultas Ilmu Komputer dan anggota AI Center UB.
Kecepatan dan daya olah DGX A100 yang mencapai 5 petaFLOPS menjadikannya alat strategis dalam memajukan ekosistem AI lintas bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, pertanian, hingga mitigasi bencana berbasis data.
Fasilitas superkomputer ini ditempatkan di AI Center Universitas Brawijaya, yang dirancang sebagai pusat unggulan riset kolaboratif berbasis AI. AI Center tidak hanya mengembangkan sistem yang mampu berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri, tetapi juga menyelenggarakan berbagai pelatihan dan workshop untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang teknologi cerdas.
AI Center UB juga menjalin kolaborasi dengan Google Cloud melalui integrasi teknologi dalam sistem pembelajaran online BRONE UB, yang memanfaatkan Generative AI dari Google Sarana AI untuk menciptakan proses belajar yang lebih personal, adaptif, dan efisien.
Kekuatan infrastruktur dan SDM membuat UB kini duduk sejajar dengan kampus-kampus elite seperti UI, ITB, UGM, ITS, dan Binus. Hal ini terlihat dalam keikutsertaan UB dalam dua agenda nasional penting: Google Cloud Summit Jakarta 2025 dan Rapat Koordinasi Penyusunan Peta Jalan Kecerdasan Artifisial (AI) Indonesia yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Ekosistem Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Kedua forum ini menjadi arena bagi UB untuk menyuarakan pendekatan etis dan strategis dalam penerapan AI, termasuk pentingnya penguatan infrastruktur teknologi yang mendukung ekosistem riset.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc, menyatakan bahwa kehadiran superkomputer ini merupakan bagian dari komitmen UB untuk menjadi pelopor dalam transformasi pendidikan berbasis teknologi cerdas.
“AI bukan sekadar alat bantu, tetapi pendamping intelektual. Kami percaya teknologi ini akan mengubah cara kita berpikir, belajar, dan memecahkan masalah kompleks dalam masyarakat,” tegasnya beberapa waktu lalu.
Prof. Widodo juga menekankan bahwa UB akan terus menjunjung prinsip etika, kolaborasi, dan kemandirian teknologi dalam setiap langkahnya membangun ekosistem AI yang berdaya saing tinggi.
Dengan superkomputer NVIDIA DGX A100 sebagai tulang punggung, Universitas Brawijaya menandai babak baru riset AI di Indonesia, bukan hanya sebagai pengikut tren global, tapi sebagai penentu arah masa depan teknologi nasional. (dan/but)






