Malang (beritajatim.com) – Indonesia dihadapkan pada krisis terselubung: keterbatasan ketersediaan anti-bisa ular yang efektif bagi ragam spesies ular lokal. Kondisi ini menjadi sorotan dalam pidato pengukuhan Prof. Nia Kurniawan, S.Si., M.P., D.Sc sebagai Profesor dalam bidang Taksonomi Vertebrata di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB).
Prof. Nia kini tercatat sebagai profesor aktif ke-33 di FMIPA, profesor aktif ke-252 di Universitas Brawijaya. Ia menjadi profesor ke-430 yang telah dihasilkan UB sepanjang sejarahnya.
Prof. Nia, dikenal sebagai pakar anti bisa ular. Ia menyoroti urgensi riset anti-bisa ular berbasis spesies lokal. Menurutnya, Indonesia memiliki keanekaragaman vertebrata endemik terbesar kedua di dunia, setelah kawasan Pegunungan Andes dan Mesoamerika.
Sayangnya, ancaman terhadap kelangsungan hidup satwa endemik ini terus meningkat, salah satunya karena kurangnya sistem penanganan medis terhadap gigitan ular berbisa.
“Di Indonesia, ular sangat beragam bahkan dalam satu spesies seperti kobra, racunnya bisa berbeda antara Jawa Barat, Jawa Timur, hingga Papua dan Nusa Tenggara Timur. Racun dari ular-ular ini memiliki komposisi protein yang tidak bisa disamaratakan,” jelasnya saat jumpa pers beberapa waktu lalu.
Saat ini, satu-satunya produsen anti-bisa ular di Indonesia adalah Bio Farma, yang hanya memproduksi serum untuk tiga jenis ular: kobra, ular weling, dan ular welang. “Ular hijau dan jenis lain belum tersentuh. Padahal di lapangan, kasus gigitan dari berbagai jenis ular masih tinggi,” tambah Prof. Nia.
Untuk menjawab tantangan ini, riset yang dipimpin Prof. Nia dimulai dari pemodelan digital atau in silico, guna mengidentifikasi karakteristik racun secara efisien sebelum masuk ke tahap laboratorium. “Pengembangan serum yang efektif harus dimulai dari karakterisasi protein racun ular berdasarkan daerah asal. Tidak bisa lagi kita mengandalkan serum impor seperti dari Thailand atau Australia, karena belum tentu cocok digunakan di Indonesia,” tegasnya.
Tahap pengembangan saat ini telah memasuki proses karakterisasi protein racun yang nantinya akan diuji lebih lanjut di laboratorium. Targetnya, Indonesia bisa memproduksi anti-bisa ular lokal yang lebih efisien dan dapat menyelamatkan nyawa dalam hitungan menit, terutama di wilayah terpencil.
Prof. Nia juga menyinggung kemajuan Malaysia yang telah memanfaatkan bisa ular untuk terapi kanker, karena sifat racunnya yang dapat membunuh sel kanker tanpa merusak sel normal. “Kita tertinggal jauh, padahal peluang pengembangan riset racun ular sangat besar di Indonesia,” ujarnya.
Dengan semakin meningkatnya ancaman kematian akibat gigitan ular berbisa dan minimnya alternatif pengobatan, Prof. Nia menekankan perlunya kebijakan nasional yang mendukung riset dan pengembangan anti-bisa berbasis biodiversitas lokal, termasuk regulasi pendistribusiannya. “Ini bukan hanya soal riset ilmiah, tapi soal menyelamatkan nyawa. Sudah saatnya Indonesia mandiri dalam pengembangan anti-bisa ular dari spesiesnya sendiri,” tutup Prof. Nia. (dan/kun)






