Surabaya (beritajatim.com) – Wacana merger dua raksasa digital, GoTo (Gojek-Tokopedia) dan Grab, memantik perhatian kalangan legislatif. Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Surabaya, Azhar Kahfi, mewanti-wanti dampak besar dari penggabungan ini terhadap ekosistem pasar, pelaku UMKM, hingga kesejahteraan mitra pengemudi.
Menurut Kahfi, merger dua entitas besar tersebut berpotensi menciptakan pasar yang tidak sehat. Dia menilai, kondisi ini akan memperkuat dominasi pasar oleh segelintir korporasi, yang bisa menekan pelaku usaha kecil dan konsumen.
“Pasar akan menjadi monopoli jika mereka merger. Ini akan gak bagus karena sangat kapitalis dan mereka bisa menyetir pasar karena gak ada pesaing dengan kapital yang sama,” kata Azhar Kahfi, Kamis (22/5/2025).
Selain itu, dia menyebut ancaman terhadap keamanan data pelaku UMKM yang menjadi mitra di platform GoTo. Dia menilai, penguasaan data oleh entitas besar yang berafiliasi dengan asing dapat merugikan posisi UMKM lokal dalam jangka panjang.
“GoTo sebagai perusahaan yang menaungi Tokopedia dan Gojek memiliki mitra UMKM domestik. Data ini bisa dimiliki dan digunakan oleh asing,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kahfi juga membandingkan sistem promosi antara dua perusahaan. Menurutnya, skema promosi konsumen di GoTo masih menggunakan dana perusahaan, sedangkan di Grab dibebankan pada driver. Dia menilai, ini bisa memicu ketimpangan kesejahteraan mitra pascamerger.
“Mekanisme promo konsumen bersumber dari penghasilan aplikasi dan driver (GoTo), sementara Grab mekanisme promo dibebankan pada driver,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Kahfi menegaskan pentingnya keterlibatan pemerintah dalam mengatur dan mengawasi proses merger ini agar tidak menciptakan ketimpangan dan eksploitasi digital.
“Dengan adanya merger dua perusahaan besar ini, pasar bisnis jasa online akan menjadi monopoli dan kapitalis. Hal ini bisa merugikan konsumen. Pemerintah harus hadir untuk memastikan keberimbangan dan perlindungan pelaku usaha kecil,” pungkasnya. [asg/but]






