Surabaya (beritajatim.com) – Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) semakin merambah ke berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam ranah kesehatan mental.
Fenomena masyarakat curhat ke chatbot berbasis AI seperti ChatGPT menimbulkan kekhawatiran akan tergantikannya peran psikolog manusia. Namun, para ahli menegaskan bahwa AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran psikolog, terutama dalam hal intervensi klinis.
Guru Besar Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Universitas Airlangga (Unair), Prof. Nurul Hartini, menyatakan bahwa meskipun AI dapat membantu dalam pencarian informasi seputar kesehatan mental, pendekatan emosional tetap menjadi kunci utama dalam penanganan psikologis.
“AI hanya sebuah mesin. Sementara dalam hal penanganan oleh psikolog membutuhkan pendekatan secara emosional,” ujarnya, Senin (19/5/2025).
Survei Snapcart 2025 menunjukkan bahwa 58 persen responden di Indonesia mempertimbangkan AI sebagai alternatif layanan psikologis, terutama karena alasan biaya dan privasi. Namun, Prof. Nurul menegaskan bahwa pada kasus seperti distress berat, penyimpangan perilaku, atau gejala depresi yang mengganggu fungsi sehari-hari, intervensi manusia tetap diperlukan.
Senada dengan itu, dosen Program Pendidikan Profesi Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Afinnisa Rasyida, M.Psi., Psikolog., menyebut ChatGPT hanya cocok digunakan sebagai alat pendukung untuk manajemen stres ringan atau refleksi diri, bukan sebagai pengganti layanan profesional.
Menurutnya, ChatGPT tidak mampu memberikan asesmen dan intervensi yang tepat, apalagi dalam kondisi krisis seperti risiko bunuh diri. “ChatGPT bukan untuk mengganti layanan profesional, khususnya pada kasus yang sudah mengganggu keberfungsian individu seperti depresi berat atau risiko bunuh diri,” ungkapnya.
Afinnisa juga menyoroti faktor-faktor yang mendorong masyarakat beralih ke AI, seperti stigma sosial, biaya tinggi, dan keterbatasan akses terhadap psikolog. Namun, ia mengingatkan bahwa AI hanya memberikan ketenangan sementara dan tidak mampu memahami konteks emosional secara mendalam.
Kedua pakar ini sepakat bahwa AI dapat dimanfaatkan secara bijak sebagai alat bantu, namun intervensi psikologis tetap membutuhkan kehadiran manusia yang mampu melakukan penilaian emosional dan transfer empati.
Artinya, profesional di bidang kesehatan, khususnya yang melibatkan aspek emosional dan psikomotor, sangat sulit tergantikan oleh AI. [ipl/but]






