Malang (beritajatim.com) – Kawasan Sudimoro yang dulunya dikenal sebagai salah satu titik nongkrong favorit anak muda Malang, kini kian kehilangan pamor. Deretan coffee shop yang dulu ramai, perlahan mulai sepi pengunjung.
Hal ini ditengarai karena pergeseran tren gaya hidup dan konsumsi masyarakat kota Malang. Terutama generasi muda yang kini lebih mengutamakan pengalaman visual dan estetik saat berkunjung ke sebuah tempat.
Ryan, mantan barista dari salah satu kafe di kawasan Sudimoro, mengungkapkan fenomena ini bukan tanpa sebab. Ia menyebut bahwa perubahan gaya hidup yang sangat cepat dan dominasi tren konsumtif telah memindahkan pusat perhatian warga ke tempat lain seperti Kayutangan Heritage.
“Sekarang duplikat Sudimoro itu ada di Kayutangan. Di sana, segmennya bukan cuma orang yang mau ngopi, tapi juga mereka yang ingin experience baru, foto-foto, atau sekadar cari tempat yang lagi viral,” ujar Ryan saat dihubungi, Senin (19/5/2025).
Ryan menambahkan, konsep kafe di Sudimoro mulai terasa monoton dan kurang relevan dengan gaya hidup generasi muda Malang saat ini yang cenderung serba up-to-date dan sangat konsumtif. Ia menyebut situasi ini mulai terasa setelah pandemi Covid-19, saat tren kafe perlahan bergeser ke arah tempat yang menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar kopi.
“Dulu Malang bukan kota konsumtif, tapi sekarang sudah seperti Bandung. Setelah Covid, tren berubah. Kafe-kafe yang ramai justru yang mengusung konsep ‘slow bar’ atau yang menawarkan produk eksklusif, seperti healthy food atau homebake yang sedang viral di media sosial,” jelasnya.
Fenomena ini menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha di kawasan Sudimoro. Mereka dituntut untuk berinovasi dan mengikuti perkembangan tren tanpa kehilangan identitas. Beberapa kafe memang telah bertahan lebih dari lima tahun, seperti Lupa Lelah Cafe, namun eksistensinya tetap bergantung pada kemampuan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar.
Ryan juga menyarankan agar pemilik kafe lebih terbuka untuk menjalin kolaborasi dan menghadirkan konsep yang lebih dinamis, baik dari segi menu, interior, maupun cara memasarkan lewat media sosial.
“Sekarang orang ngopi itu bukan cuma soal rasa, tapi soal brand experience. Kalau nggak bisa kasih itu, ya ditinggal,” pungkasnya.
Dengan semakin padatnya persaingan di industri kopi dan lifestyle cafe, kawasan seperti Sudimoro menghadapi momentum untuk bertransformasi atau tenggelam sepenuhnya. [dan/beq]






