Ponorogo (beritajatim.com) – Perburuan praktik prostitusi di Ponorogo memasuki babak baru. Jika dulu warung remang di pinggir jalan jadi sasaran razia, kini Satpol PP dan Damkar dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks, yakni prostitusi online. Fenomena ini tumbuh senyap di balik layar ponsel dan terselubung dalam aplikasi kencan, membuat penindakan tak semudah menyegel warung remang tradisional.
Desakan untuk bertindak datang dari DPRD Ponorogo. Legislator meminta korps penegak perda tak hanya fokus pada prostitusi konvensional, tapi juga menyisir pergerakan para pekerja seks komersial (PSK) yang kini beroperasi secara digital. Diduga kuat, sejumlah hotel dan tempat indekos menjadi lokasi praktik esek-esek terselubung ini.
“Fenomena prostitusi online makin sulit dikendalikan. Mereka berpindah-pindah hotel, tidak menetap. Sebagian besar juga bukan warga Ponorogo, melainkan datang dari luar daerah,” ungkap Kasatpol PP dan Damkar Ponorogo, Eko Edi Suprapto, Sabtu (17/5/2025).
Menurut Eko, pengawasan terhadap praktik ini memiliki tingkat kesulitan tinggi. Selain minim data, pihaknya juga harus berhati-hati dalam menyisir hotel dan penginapan agar tidak menimbulkan gesekan dengan pelaku usaha.
“Tracing terhadap praktik prostitusi online berbeda dengan warung remang yang kasatmata. Ada risiko sosial dan ekonomi yang harus kami pertimbangkan. Tapi, siapa pun yang terindikasi keluar dari fungsi sosialnya, akan kami tindak dan identifikasi,” tegasnya.
Sejauh ini, Satpol PP telah menutup tiga titik warung remang yang terbukti menjadi sarang prostitusi. Lokasi itu antara lain warung di Jalan Raya Siman, Pasar Danyang Desa Sukosari Babadan, dan Pasar Janti Desa Ngrupit Jenangan. Penutupan dilakukan menyusul hasil pemeriksaan yang menemukan PSK positif mengidap penyakit menular berbahaya.
Namun, Eko menegaskan, pendekatan terhadap prostitusi online butuh strategi berbeda. Penindakan yang gegabah bisa memicu konflik, bahkan merugikan citra daerah.
“Kami tidak bisa hanya bergerak dengan cara lama. Harus ada kolaborasi lintas sektor dan strategi yang lebih digital. Kalau hanya razia manual, tidak akan menyentuh akar masalah,” pungkasnya. (end/ian)






