Bondowoso (beritajatim.com) – Puluhan siswa Madrasah Aliyah (MA) Al Irsyad tampak antusias mengikuti pelatihan pengelolaan sampah di markas komunitas peduli lingkungan Sarka Space, Kelurahan Kademangan, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso. Dalam kegiatan tersebut, para siswa diajarkan cara memilah dan mencacah sampah, yang kemudian diolah menjadi barang bernilai ekonomis hingga energi alternatif seperti solar.
Kepala MA Al Irsyad, Hairul Rozy, menyebutkan pelatihan ini sejalan dengan program sekolah dalam pemberdayaan sampah. “Setiap hari, kami menghasilkan lebih dari dua gerobak sampah. Selama ini, semuanya dibuang ke TPA,” ungkapnya.
Menurutnya, setelah dipelajari, sampah ternyata memiliki banyak nilai, baik organik untuk pupuk maupun nonorganik yang bisa didaur ulang. “Yang bisa didaur ulang menjadi barang seni, bahan bakar, dan banyak lagi,” jelas Hairul. Ia menambahkan, kerja sama dengan Sarka Space merupakan langkah konkret agar siswa memiliki kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
“Kalau kita ajarkan peduli sampah sejak sekarang, maka mereka bisa jadi agen perubahan. Sampah tidak lagi menjadi beban negara,” ujarnya.
Founder Sarka Space, Uyes, menjelaskan bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama selama dua tahun dengan sejumlah lembaga pendidikan, termasuk pondok pesantren dan SMKN 4. Fokus kerja sama ini mencakup pelatihan pemilahan sampah, penyusunan RAB alat pengelolaan, dan pembentukan tim pengelola di tiap lembaga.
“Kami selalu terbuka bekerja sama, tapi kendala utama kami adalah armada angkut,” jelas Uyes. Ia menyebut, banyak lembaga berharap sampah dijemput, padahal Sarka Space belum memiliki kendaraan operasional. “Harapannya ada kendaraan roda empat, tapi kalau pun roda tiga atau vespa gandeng, itu juga bisa dimaksimalkan,” tambahnya.
Uyes juga menekankan pentingnya kemandirian dalam pengelolaan sampah. “Mengelola sampah itu tidak harus pakai mesin mahal atau modal besar. Yang penting niat. Terbukti kami bisa dengan cara swadaya,” ujarnya.
Selain menciptakan produk daur ulang, Sarka Space juga mengembangkan formulasi pengolahan sampah menjadi bahan bakar solar. “Kami berharap tiap desa bisa memanfaatkan ini, terutama petani yang banyak menggunakan mesin berbahan bakar solar. Pesantren juga bisa memanfaatkannya untuk kebutuhan pembangunan,” pungkas Uyes. [awi/beq]






