Pacitan (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan mencatat tren penurunan kasus Leptospirosis di wilayahnya pada awal tahun 2025. Di Puskesmas Ngadirojo, misalnya, sepanjang tahun 2024 terdapat 117 kasus, sementara hingga awal Mei 2025 hanya ditemukan 51 kasus baru.
Kepala Dinas Kesehatan Pacitan, dr. Daru Mustikoaji, menyebut data tersebut masih merupakan gabungan antara kasus suspek dan kasus terkonfirmasi positif. Berdasarkan pemetaan wilayah, bulan April dan Mei biasanya menunjukkan tren kenaikan kasus. Namun hingga saat ini, di Kecamatan Ngadirojo baru ditemukan empat kasus positif.
“Ini berkat upaya yang terus dilakukan oleh tenaga kesehatan bersama lintas sektor. Edukasi kepada masyarakat sudah dilakukan secara intensif sejak awal musim penghujan dan menjelang masa panen,” jelas dr. Daru, Minggu (11/5/2025).
Salah satu kasus terbaru Leptospirosis dilaporkan pada 10 Mei lalu, menimpa seorang warga Desa Tanjunglor, Kecamatan Ngadirojo. Pasien sempat dirawat intensif di ruang ICU RSUD dr. Darsono Pacitan, namun kini kondisinya berangsur membaik dan telah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Kepala UPT Puskesmas Ngadirojo, dr. Rini Endrawati, mengungkapkan Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira, yang ditularkan melalui air atau tanah yang terkontaminasi urin tikus. Gejala yang muncul diantaranya pusing, gelisah, muntah berwarna hitam, diare, demam selama tiga hari, serta nyeri pada kaki atau betis.
Sebagai langkah antisipasi, Puskesmas Ngadirojo bersama lintas sektor terus menggencarkan upaya pencegahan. Selain sosialisasi kepada masyarakat, juga dilakukan pemasangan perangkap tikus (trap) di sejumlah titik yang terdeteksi adanya kasus.
“Bahkan, dilakukan pembedahan sampel ginjal tikus untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri leptospira,”jelasnya.
Dia menghimbau masyarakat harus terus menjaga pola hidup bersih dan sehat, terlebih saat musim penghujan seperti sekarang, karena Pacitan termasuk wilayah endemis Leptospirosis. (tri/but)






