Jombang (beritajatim.com) – Sebuah terobosan di bidang pendidikan pertanian digagas dalam workshop selama tiga hari di DeDurian Park, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Gagasan tersebut adalah pendirian Akademi Buah Nusantara (ABN), sebuah institusi pendidikan vokasi yang secara spesifik mencetak tenaga ahli di bidang buah-buahan tropis.
“Hasil riset saya keliling nusantara, maupun pengalaman membimbing mahasiswa jenjang S-1, S-2, hingga S-3, yang mendalami pertanian, mereka minim sekali memahami buah secara spesifik. Padahal buah adalah tanaman masa depan,” ujar Prof Reza Tirta Winata, pakar durian, manggis dan buah lainnya, Kamis (8/5/2025) di Wonosalam.
Menurut Prof Reza, Indonesia sebagai negara tropis memiliki kekayaan buah yang luar biasa. Namun potensi besar itu tidak diimbangi dengan ketersediaan tenaga terampil yang benar-benar menguasai bidang buah secara mendalam. Hal ini menyebabkan kualitas dan daya saing buah Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain seperti China dan Thailand.
“Saya konsultan ribuan hektare kebun buah milik pengusaha ataupun milik negara. Ada di Bogor, Jawa Timur, hingga NTB. Tapi begitu mencari tenaga muda ahli, sangat kesulitan. Ada ribuan sarjana pertanian, tapi tidak spesifik memahami buah,” katanya, seraya menambahkan bahwa ke depan, ahli buah akan menjadi profesi yang sangat dibutuhkan.
Ia menilai selama ini dunia kebun buah kurang menarik minat generasi muda karena dianggap kurang prestisius dan tidak menjanjikan dari sisi pendapatan. Namun dengan adanya akademi khusus buah, lulusan akan menjadi tenaga ahli profesional yang dihargai tinggi oleh industri perkebunan.
“Mungkin anak muda selama ini tidak tertarik berkebun. Karena dianggap tidak menarik. Apalagi gajinya mungkin minim. Maka dengan adanya akademi buah, mereka berilmu, ahli buah, otomatis perkebunan akan menghargai tinggi sebagai profesional,” tegas ketua Yayasan Durian Nusantara ini.
Prof Reza menjelaskan, studi kelayakan pendirian ABN telah dilakukan selama dua tahun, termasuk survei potensi buah-buahan di wilayah Wonosalam. Tiga komoditas unggulan yang banyak diminati pasar global—alpukat, durian, dan manggis—hidup subur dan berkembang baik di kawasan tersebut.
“Akademi ini setingkat D2 dan D3, masuk kategori Akademi Komunitas (AK) yang spesifik. Khusus di Jombang ini akademi buah. Dan bukan komoditas pertanian lain,” pungkasnya.
Yusron Aminulloh, CEO DeDurian Park yang juga menjadi narasumber dalam workshop tersebut menyatakan bahwa gagasan pendirian Akademi Buah Nusantara kini sedang dalam tahap persiapan.
Berdasarkan petunjuk pelaksanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, akademi komunitas bisa didirikan oleh pemerintah kabupaten maupun pihak swasta.
“Setahun ini kami siapkan sinergi banyak pihak untuk membangun sarana dan prasarana, sedang Prof Reza siapkan kurikulum dan tim pengajar,” ujarnya.
Pihaknya menargetkan pembangunan kampus akan rampung dalam satu hingga dua tahun ke depan. Diperlukan lahan minimal 5.000 m² hingga 2 hektare untuk kampus, termasuk pembangunan asrama dan ruang perkuliahan.
“Yang menarik kata Prof Reza, banyak kepala daerah di Indonesia membutuhkan lulusannya. Jadi target mahasiswa se-Indonesia. Nanti akan dikirim dari daerah-daerah Jawa dan luar Jawa. Pemkab kirim mahasiswa, setelah lulus kembali ke daerahnya,” tegas Yusron.
Dengan potensi yang besar dan kebutuhan tenaga ahli yang tinggi, Akademi Buah Nusantara diyakini akan menjadi pionir dalam pendidikan buah-buahan tropis di Indonesia dan membuka jalan bagi lahirnya generasi muda profesional di bidang agrobisnis buah. [suf]






