Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menekankan pentingnya kemandirian finansial di tengah maraknya gig economy dalam seminar pendidikan yang digelar Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sabtu (3/5/2025).
Seminar bertajuk “Wujudkan Impian Menjadi Pribadi Mandiri Finansial Bersama Universitas Terbuka Surabaya” ini merupakan bagian dari rangkaian wisuda UT Surabaya Periode I Tahun 2025, yang akan diselenggarakan pada Minggu, 4 Mei 2025.
Dalam paparannya, Emil menjelaskan bahwa pola kerja masa kini telah berubah drastis. Banyak profesi tidak lagi berorientasi pada pekerjaan tetap, melainkan berbasis proyek atau layanan.
“Inilah yang disebut gig economy, di mana banyak individu bekerja secara lepas atau freelance. Mereka bukan karyawan, tapi penyedia jasa yang melayani klien secara langsung,” jelas Emil.
Menurut Emil, berkat teknologi, pekerjaan dapat dilakukan secara mandiri hanya dengan laptop, gadget, dan internet. Ia menyebut bahwa sebenarnya sejumlah profesi sebelumnya dengan kemiripan model gig economy adalah pengacara atau bahkan akuntan.
Namun, ia menyoroti tantangan yang dihadapi para pekerja gig atau freelancer ini, khususnya dalam hal perencanaan karier dan keuangan. “Dalam gig economy, jenjang karier tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh kualitas portofolio. Artinya, pengembangan diri harus diupayakan secara mandiri,” tegasnya.
Emil juga menyinggung bahwa tidak adanya sistem penggajian tetap membuat para freelancer perlu memiliki keterampilan finansial yang lebih matang. “Berbeda dengan karyawan yang mendapat tunjangan pensiun dan asuransi, pekerja lepas harus merencanakan semuanya sendiri,” tambahnya.
Emil pun mengajak generasi muda, khususnya para lulusan perguruan tinggi, untuk melek terhadap tren kerja masa kini dan membekali diri dengan kemampuan mengelola keuangan pribadi secara efektif.
Sementara itu, Direktur UT Surabaya, Dr Suparti mengajak para lulusan untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan, khususnya dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Menurut Suparti, era digital dan pasca pandemi telah membuat perputaran barang dan aktivitas jual beli meningkat drastis. Hal ini berpotensi mendorong perilaku konsumtif jika tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang baik.
“Jangan sampai para alumni membelanjakan uang hanya karena keinginan, bukan kebutuhan. Harus bisa membedakan mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang hanya sebatas keinginan,” ujar Suparti.
Ia menegaskan bahwa kemampuan menahan diri sangat penting agar pengeluaran tetap terkendali dan tidak melebihi pemasukan.
“Ilmu yang disampaikan hari ini harapannya bisa membantu lulusan agar tidak terjebak dalam kondisi ‘lebih besar pasak daripada tiang’. Dengan manajemen keuangan yang baik, pemasukan dan pengeluaran bisa terkoordinasi dengan tepat,” tambahnya.
Seminar ini merupakan bagian dari komitmen UT Surabaya dalam membekali lulusan tidak hanya dengan keilmuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup yang relevan dengan tantangan zaman, termasuk kemampuan mengatur keuangan pribadi secara mandiri. [ipl/beq]






