Jember (beritajatim.com) – Seorang peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) dipastikan tidak bisa kuliah di perguruan tinggi negeri mana pun, menyusul terbongkarnya perjokian i Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Peserta yang diduga melakukan kecurangan tersebut mengikuti ujian pada hari kedua, 24 April 2025, jam pertama. Begitu ada indikasi kuat adanya praktik perjokian, komputer yang digunakan dinonaktifkan dan peserta tersebut melanjutkan ujian di ruang lain.
Ketua Pusat UTBK SNBT Universitas Jember Slamin tidak ingin mendahului keputusan panitia nasional. “Yang pasti dia didiskualifikasi,” katanya, Jumat (2/5/2025).
Data peserta tersebut kemudian diinformasikan kepada panitia pusat. Dengan demkian, terduga pelaku kecurangan ini tidak bisa masuk perguruan tinggi negeri mana pun di Indonesia melalui jalur mandiri.
Universitas Jember juga akan menjatuhkan sanksi kepada pelaku perjokian yang sudah berstatus mahasiswa. “Bahkan yang sudah kuliah dua tahun ke belakang,” kata Slamin.
Slamin juga memastikan terbongkarnya kasus perjokian ini tidak akan berdampak terhadap peserta lain yang tidak terlibat. “Pembobotan nilai UTBK SNBT ini tergantung pada tingkat kesulitan soal. Semakin banyak yang bisa mengerjakan, semakin rendah bobotnya. Semakin sedikit yang bisa mengerjakan, semakin tinggi bobotnya,” katanya.
Pembobotan dengan sistem IRT atau Item Response Theory ini jauh lebih adil bagi peserta. “Betul-betul by system. Tidak ada sama sekali apa campur tangan manusia,” kata Slamin.
UTBK SNBT di yang berlokasi di Universitas Jember berlangsung sejak 23 April hingga 3 Mei 2025. Praktik kecurangan itu terungkap setelah Panitia Pusat UTBK Universitas Jember menerima informasi dari Panitia Pusat Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), 23 April 2025, tentang potensi adanya upaya remote access terhadap komputer peserta ujian di salah satu lokasi UTBK SNBT 2025 di kampus tersebut.
Pengungkapan yang dilakukan Universitas Jember sudah dilaporkan ke panitia pusat nasional. “Kami lebih baik fokus pada pelaksanaan UTBK yang masih sampai besok pagi. Jangan sampai itu terganggu,” kata Slamin. [wir]






