Bojonegoro (beritajatim.com) – Perusahaan minyak dan gas bumi (migas) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) terus memperpanjang kontribusinya terhadap penyediaan energi nasional melalui pengelolaan Blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro. Kemajuan teknologi yang digunakan semakin menambah jumlah temuan cadangan energi fosil yang ditambang.
External Engagement and Socioeconomic Manager EMCL, Tezhart Elvandiar menyebutkan bahwa cadangan minyak yang ditemukan di Blok Cepu kini telah mencapai 1 miliar barel, meningkat tajam dari temuan awal sebesar 450 juta barel pada tahun 2005. Penambahan ini tak lepas dari dukungan teknologi modern dan pengolahan data geologis yang mendalam.
“Produksi puncak awalnya sebesar 165 ribu barel per hari, tapi sempat menyentuh 235 ribu barel per hari. Itu sudah batas maksimum kapasitas fasilitas produksi,” ujar Tezhart.

Puncak produksi Blok Cepu terjadi antara 2017 hingga 2021 dengan rata-rata produksi 200 ribu barel per hari. Setelah melewati masa puncak, produksi mulai menurun secara alamiah. Untuk mengatasi penurunan tersebut, EMCL telah membor dua sumur baru dengan produksi mencapai 14 ribu barel per hari dan merencanakan pemboran tujuh sumur lainnya.
Tak hanya dari lapangan Banyu Urip, EMCL juga mengelola lapangan Kedung Keris yang mulai dibor sejak 2019. Produksi awalnya diperkirakan 4.000 barel per hari, namun kini telah mencapai lebih dari 10.000 barel per hari, bahkan pernah menembus angka 13.000 barel per hari. Minyak dari Kedung Keris dialirkan ke Central Processing Facility (CPF) di Gayam melalui pipa sepanjang 16 kilometer.
“Total produksi migas dari Blok Cepu sejauh ini telah memberikan kontribusi besar bagi negara dengan nilai mencapai 29,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp570 triliun,” tambah Tezhart.
Dalam upaya mendukung transisi energi, ExxonMobil juga menggandeng Pertamina untuk mengembangkan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture) dengan kapasitas 3 gigaton, di Laut Jawa sebagai bagian dari komitmen menuju energi bersih.
Kontrak kerja sama pengelolaan Blok Cepu sendiri dimulai sejak 17 September 2005 dan akan berakhir pada 2035. Melalui pengelolaan berkelanjutan dan adaptasi teknologi, EMCL menegaskan perannya dalam memperpanjang usia energi fosil dari Bojonegoro, sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.
“Selain hulu migas, ExxonMobil juga merambah sektor hilir melalui ExxonMobil Lubricant Indonesia dan bisnis bahan bakar minyak,” ujar Tezhart. [lus/but]






