Yogyakarta (beritajatim.com)- Merek ikonik asal Yogyakarta, Dagadu, resmi memperkenalkan koleksi terbarunya lewat acara bertajuk Crafted with Stories: Merangkai Jejak Menjahit Makna di Benteng Vredeburg.
Tak sekadar memperkenalkan produk baru, Dagadu kini melakukan transformasi besar untuk lebih dekat dengan generasi muda. Tak hanya itu merek ikonik yang identik dengan oleh oleh khas Yogyakarta bakal go nasional dengan membangun branding di beberapa kota seluruh Indonesia.
CEO Dagadu, Mia Argianti, mengungkapkan bahwa perubahan ini merupakan upaya menyegarkan citra merek yang selama ini dikenal kuat di kalangan generasi 90-an.
“Kami ingin Dagadu tetap relevan. Dengan pendekatan desain modern namun tetap berakar pada budaya lokal, Dagadu hadir untuk generasi masa kini,” ujar Mia.
Menurutnya, nilai-nilai lokal tidak harus tergerus zaman. Justru, dengan kemasan kreatif dan kontemporer, budaya dapat tampil lebih berani serta menginspirasi masyarakat yang lebih luas. “Dagadu tidak lagi hanya sekadar oleh-oleh khas Yogyakarta, tapi menjadi bagian dari gaya hidup yang membanggakan identitas budaya kita,” tambahnya.
Kolaborasi dengan Shaggydog dan Dukungan Komunitas Lokal
Dalam peluncuran ini, Dagadu menggandeng band reggae kenamaan asal Yogyakarta, Shaggydog, serta melibatkan Pemkot Yogyakarta, influencer muda, hingga pakar budaya. Kolaborasi dengan Shaggydog sendiri telah melahirkan proyek kreatif bertajuk Manunggaling Dagadu lan Shaggydog dengan 11 desain eksklusif yang menggabungkan semangat urban Yogyakarta.
“Dagadu dan Shaggydog sama-sama lahir dari denyut kreatif Yogyakarta. Kami ingin menunjukkan bahwa musik dan fashion bisa menjadi sarana ekspresi yang terus berkembang tanpa meninggalkan akar budaya,” jelas vokalis Shaggydog, Heru Wahyono.
Koleksi Khusus: Cermin Keresahan Generasi Muda
Melalui koleksi seperti Special Collection, Jogja Series, dan Teen Series, Dagadu mengangkat berbagai isu sosial yang relevan dengan kehidupan generasi muda. Misalnya, desain bertema “KPR” menggambarkan realita sulitnya memiliki rumah di tengah krisis lingkungan hidup.
“Desain kami bukan hanya soal estetika, tapi juga membawa pesan sosial tentang tantangan hidup anak muda zaman sekarang,” ujar Mia.
Lebih dari Fashion: Gerakan Sosial dan Kreativitas Lokal
Transformasi Dagadu bukan hanya sekadar perubahan visual. Sejak didirikan oleh mahasiswa UGM pada tahun 1994, Dagadu konsisten mendukung industri kreatif lokal. Kini, Dagadu ingin menjadi wadah bagi generasi muda Yogyakarta untuk terus berkarya dan memperkenalkan budaya Indonesia di kancah nasional hingga global.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, turut memberikan apresiasi terhadap langkah Dagadu. “Dagadu adalah simbol kreativitas Yogyakarta. Kami berharap transformasi ini membawa semangat baru bagi industri kreatif dan memperkuat citra Yogyakarta di mata dunia,” ujarnya dalam siaran pers.
Dengan semangat baru ini, Dagadu membuktikan bahwa warisan budaya lokal bisa tetap bersinar di era modern, menjadi bagian dari gaya hidup, dan sekaligus menggerakkan perubahan sosial positif. [aje]






