Carlo Ancelotti memang tidak sefenomenal Zinedine Zidane ketika menghadirkan hat-trick juara Liga Champions 2016-2018 untuk Real Madrid. Tetapi, jika tolok ukurnya adalah tiga gelar Si Kuping Besar, maka Don Carlo–julukan Ancelotti–juga meraihnya meski tidak beruntun. Yakni musim 2013–2014, 2021–2022, dan 2023–2024.
Ancelotti dan Zidane juga dua periode melatih Real. Ancelotti pada 2013-2015 dan 2021 hingga sekarang alias 2.123 hari. Sedangkan Zizou pada 2016-2018 dan 2019-2021 atau 1.750 hari.
Dengan masa bakti yang lebih panjang, Ancelotti mengoleksi 15 gelar berbanding 11 gelar milik Zidane. Bahkan, Ancelotti musim ini masih berpeluang menambah dua trofi lagi di LaLiga dan Copa del Rey.
Tetapi, yang terjadi dalam sepekan terakhir bak bencana bagi Ancelotti. Itu bermula dari Real yang disingkirkan Arsenal pada perempat final Liga Champions (17/4).
Mantan pelatih AC Milan, Chelsea, Paris Saint-Germain, dan Bayern Munchen itu diserang habis-habisan. Musim ini diyakini bakal jadi pengabdian terakhir Ancelotti kepada Real. Bahkan sempat ada rumor dia bakal out jika Real kalah dari FC Barcelona pada final Copa del Rey Minggu (27/4) dini hari.
“Bagiku, yang menimpa Ancelotti tidak pantas terjadi. Real memiliki salah satu pelatih terbaik. Ancelotti juga memenangi segalanya bersama Real,” ujar entrenador FCB Hans-Dieter Flick dikutip Managing Madrid.
Ucapan Hansi–sapaan Flick–bukan psywar jelang final Copa del Rey Minggu dini hari. Ancelotti juga tercatat sebagai entrenador dengan trofi terbanyak dalam sejarah Real.
Jika tolok ukurnya adalah kesetiaan, maka itu juga tidak pantas ditanyakan kepada Ancelotti. Keputusannya kembali melatih Real pada 2021 adalah cerminan kesetiaan khas figur lama sepak bola Italia.
Padahal, saat itu Real juga sebenarnya sedang menurun. Periode kedua Zidane juga “hanya” mempersembahkan 1 LaLiga dan 1 Supercopa de Espana. Sedangkan Ancelotti langsung mempersembahkan 3 trofi pada musim debut keduanya bersama Real.
Lebih jauh, Ancelotti tidak pernah nirgelar dalam enam musimnya menukangi Real. Di periode pertama, pada 2013–2014 dia mempersembahkan Copa del Rey dan Liga Champions. Semusim berselang menjuarai Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub.
Pada periode kedua, musim 2021–2022 kampiun LaLiga, Supercopa de Espana, dan Liga Champions. Semusim kemudian, Ancelotti memenangi Copa del Rey, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Musim lalu juara Liga Champions, LaLiga, dan Supercopa de Espana. Bahkan, pada musim ini yang disebut sebagai kegagalan Ancelotti pun dia masih memenangi Piala Super Eropa dan Piala Interkontinental. Dengan pencapaian sehebat itu, setidaknya Ancelotti seharusnya bisa mendapat kredit setinggi langit dari Real.
“Aku tidak ada masalah atau dendam kepada siapa pun. Aku mencintai klub ini dan ingin bertahan selama mungkin. Setelah ini (kebersamaan dengan Real, Red) berakhir, aku akan sangat bersyukur (pernah melatih Real dan bergelimang gelar, Red)” ucap Ancelotti.
Bagaimana pun, Ancelotti merupakan figur krusial ketika Real memenangi La Decima pada 2013–2014. Sebelum itu, kali terakhir Real juara Liga Champions adalah musim 2001–2002 ketika Zidane bahkan masih aktif bermain.
Dia jadi sosok utama pembuka dominasi Real di Eropa sedekade terakhir. Sehingga Real kini dengan bangga menyandang badge of honours 15 kali sebagai simbol supremasi 15 kali juara Liga Champions. Terbanyak dari semua tim di benua biru. Bahkan, AC Milan sebagai runner-up juara terbanyak pun baru mengumpulkan 7 gelar.
Setidaknya, Real bisa memberikan kesempatan agar Ancelotti menuntaskan kontraknya semusim lagi. Biarlah dia sendiri yang mengajukan surat mundur. Biarlah dia menyelesaikan tugasnya dengan tenang. Bahkan, bukan tidak mungkin Ancelotti yang kini menjejak 65 tahun akan pensiun bersamaan dengan habisnya kontrak bersama Real. Itu akan menjadi epilog terindah. Bukan sekadar bagi Ancelotti. Melainkan juga bagi Real. (dio/but)






