Kediri (beritajatim.com) – Komunitas keris, empu muda, budayawan, dan mahasiswa pecinta tosan aji dari berbagai daerah menggelar aksi damai di sejumlah titik strategis Kota Malang, Minggu (20/4/2025), sebagai bentuk penolakan terhadap penetapan tanggal 19 April sebagai Hari Keris Nasional oleh Menteri Kebudayaan sekaligus Ketua SNKI, Fadli Zon.
Aksi berlangsung di halaman luar Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya, Alun-alun Kota Malang, dan beberapa ruang budaya lainnya. Para peserta membawa spanduk bertuliskan
“Tolak 19 April – Hormati 25 November”,
Mereka membagikan selebaran edukatif, serta membacakan “Piagam Marwah Keris Nusantara” sebagai bentuk perlawanan kultural terhadap apa yang mereka sebut sebagai pengaburan sejarah.
Wasekjen Senapati Nusantara: “Ini Bukan Soal Simbol, Tapi Soal Sejarah”
Wakil Sekretaris Jenderal Senapati Nusantara Nurjianto menyebut bahwa penetapan 19 April adalah bentuk manipulasi simbolik yang tidak memiliki dasar sejarah kuat.
“Ini bukan tentang menolak hari nasional, tapi tentang menolak sejarah yang disingkat menjadi ulang tahun lembaga. Keris diakui dunia oleh UNESCO pada 25 November 2005. Itulah tonggak yang benar. Kenapa diabaikan?” ujar Nurjianto saat dihubungi wartawan.
Ia menambahkan bahwa perjuangan menetapkan 25 November sebagai Hari Keris Nasional yang sah telah berjalan sejak 2016 dengan dukungan dari komunitas akar rumput dan akademisi budaya.
Orasi Pemuda Keris: “Nilai di Balik Bilah”
Aksi damai di Malang dipimpin oleh Riski Maulana, insan muda pelestari keris yang membacakan orasi berjudul “Suara Muda Penjaga Marwah Keris Nusantara”. Orasinya mendapat sambutan hangat dan tepuk tangan panjang dari para peserta aksi.
“Saya hanya seorang anak muda yang mencintai makna di balik bilah. Bukan bentuknya yang membuat saya bertahan, tapi nilainya. Dan karena itu saya menolak 19 April,” ucap Riski dengan suara bergetar.
Ia menyerukan kepada generasi muda agar tidak diam terhadap pengaburan sejarah dan menegaskan bahwa hanya 25 November yang pantas menjadi Hari Keris Nasional.
“UNESCO mengakui keris Indonesia pada 25 November 2005. Itu bukan keputusan seremoni, tapi pengakuan dunia. Kalau negara ini jujur pada sejarahnya, maka 25 November adalah jawabannya,” tegasnya.
Dukungan Meluas di Berbagai Daerah
Tak hanya di Malang, aksi serupa juga digelar di Yogyakarta, Solo, Sumenep, dan Banjarmasin. Komunitas pelestari keris serentak menyuarakan penolakan melalui media sosial dengan tagar #Tolak19April dan #HariKerisNasional25November sebagai bentuk konsolidasi digital.
Senapati Nusantara menegaskan bahwa gerakan ini akan terus berlanjut melalui petisi nasional, kampanye edukatif lintas daerah, dan forum-forum budaya terbuka guna mendesak pemerintah melakukan peninjauan ulang atas kebijakan yang dinilai menyalahi sejarah.
“Keris adalah pusaka. Tapi lebih dari itu, keris adalah nurani bangsa. Jangan matikan nurani kami hanya karena engkau punya kuasa,” pungkas Riski. [nm/aje]






