Kediri (beritajatim.com) – Hanindhito Himawan Pramana, atau yang akrab disapa Mas Dhito, kembali terpilih sebagai Bupati Kediri untuk periode kedua (2025-2030) bersama wakilnya, Dewi Maria Ulfa. Pasangan ini resmi dilantik di Istana Negara, Jakarta, pada 20 Februari 2025 oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
Mas Dhito, putra dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo, memulai perjalanan politiknya sebagai Bupati termuda di usia 29 tahun pada 2019. Masa jabatan pertamanya diwarnai tantangan besar, mulai dari pandemi Covid-19 hingga wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak.
“Saya di angkatan Bupati Covid, karena dilantik bersamaan dengan terjadinya pandemi. Saat itu, pelantikan sangat berbeda dengan sekarang,” ujar Mas Dhito.
Proyek Strategis Nasional: Bandara Dhoho Kediri
Salah satu pencapaian besar Mas Dhito adalah pengawalan Proyek Strategis Nasional (PSN) Bandara Dhoho Kediri, yang kini telah 100% selesai. Bandara senilai Rp13 triliun ini dibiayai swasta melalui Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) oleh PT Gudang Garam Tbk.
Mas Dhito juga fokus pada konektivitas pendukung, seperti pembangunan jalan tol Kertosono-Kediri dan Kediri-Tulungagung, serta Revitalisasi Pasar dan Masjid Agung Pare.
“Motivasinya adalah membangun apa yang sudah saya mulai dari periode pertama, dan saya pastikan Insya Allah akan kita selesaikan di periode kedua ini,” tegasnya.
Peran dalam Pengembangan Kawasan Ekonomi
Untuk mendukung Bandara Dhoho, Mas Dhito memastikan Rancangan Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Banyakan-Grogol disetujui, memudahkan investor melalui sistem Online Single Submission (OSS).
“Adanya RDTR ini menjadikan investasi di sebagian kawasan Banyakan dan Grogol, terutama yang dekat dengan bandara, sudah ada kepastian,” jelasnya.
Kawasan seluas 5.520,35 hektar ini akan menjadi pusat perdagangan dan jasa berbasis agribisnis, memperkuat Kediri sebagai episentrum baru di Jawa Timur.
Dukungan untuk Penerbangan Haji dan Infrastruktur
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mendukung Bandara Dhoho sebagai pemberangkatan haji dan umroh, berkat landasan pacu 3.300 meter. Namun, Mas Dhito menyoroti perlunya asrama haji dan rumah sakit sebagai syarat Arab Saudi.
“Bandara ini dengan akses yang ada sudah cukup memberikan competitiveness dibandingkan dengan bandara-bandara lain,” ujarnya.
Dengan berbagai terobosan ini, Hanindhito Himawan Pramana membuktikan komitmennya menjadikan Kediri sebagai daerah maju dan berdaya saing.
Mas Dhito menegaskan bahwa meski dibimbing oleh sang ayah, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, seluruh kebijakan tetap diambil secara mandiri.
“Mentor politik ia, tapi kalau keseharian mengambil keputusan dan kebijakan ya tetap atas inisiatif pribadi saya,” tegasnya. [nm/ted]






